Tampilkan postingan dengan label Askep Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askep Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2009

Askep Anak Pneumonia

Askep Anak Pneumonia

Pneumonia

A. Pengertian

Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang
umumnya disebabkan oleh agent infeksi.

Askep Anak Pneumonia

B. Etiologi

Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti :

  1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacter
  2. Virus: virus influenza, adenovirus
  3. Micoplasma pneumonia
  4. Jamur: candida albicans
  5. Aspirasi: lambung
Askep Anak Pneumonia


C. Patofisiologi

Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya.

Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.

Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.

Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.

Askep Anak Pneumonia

D. Manifestasi Klinis
  • Secara khas diawali dengan awitan menggigil, demam yang timbul dengan cepat (39,5 ºC
    sampai 40,5 ºC).
  • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk.
  • Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur, pernafasan cuping hidung
  • Nadi cepat dan bersambung
  • Bibir dan kuku sianosis
  • Sesak nafas
Askep Anak Pneumonia

E. Komplikasi
  • Efusi pleura
  • Hipoksemia
  • Pneumonia kronik
  • Bronkaltasis
  • Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak
    mengandung udara dan kolaps).
  • Komplikasi sistemik (meningitis)
Askep Anak Pneumonia

F. Pemeriksaan Penunjang
  1. Sinar X : mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga
    menyatakan abses)
  2. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada.
  3. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
  4. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
  5. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
  6. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi.
  7. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing.
Askep Anak Pneumonia

G. Penatalaksanaan

Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal
itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya :
  • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
  • Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
  • Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma.
  • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda.
  • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia.
  • Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup.
Askep Anak Pneumonia


Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Pneumonia


A. Pengkajian
  1. Aktivitas/istirahat
    Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
    Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

  2. Sirkulasi
    Gejala : riwayat adanya
    Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat.

  3. Makanan/cairan
    Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
    Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia
    (malnutrisi).

  4. Neurosensori
    Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
    Tanda : perusakan mental (bingung)

  5. Nyeri/kenyamanan
    Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
    Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)

  6. Pernafasan
    Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
    Tanda :
    • sputum: merah muda, berkarat
    • perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
    • premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
    • Bunyi nafas menurun
    • Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku

  7. Keamanan
    Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
    Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar

  8. Penyuluhan/pembelajaran
    Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
    Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari
    Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah.

B. Diagnosa Keperawatan
  1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru

  2. Defisit Volume Cairan b.d Penurunan intake cairan

C. Intervensi
  1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru

    Karakteristik :

    Batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis.

    Tujuan :

    Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :

    • Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi
    • Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC
    • Laju nafas dalam rentang normal
    • Tidak terdapat batuk, cyanosis, haluaran hidung, retraksi dan diaporesis
    Intervensi
    • Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas.
      R : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan.
    • Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal
      R : Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi
    • Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi
      R : Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru
    • Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare)
      R : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan
    • Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks
      R : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru
    • Lakukan suction secara bertahap
      R : Membantu pembersihan jalan nafas
    • Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam
      R : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan.


  2. Defisit Volume Cairan b.d Penurunan intake cairan

    Karakteristik :

    Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.

    Tujuan :
    Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai dengan :
    • Intake adekuat, baik IV maupun oral
    • Tidak adanya letargi, muntah, diare
    • Suhu tubuh dalam batas normal
    • Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020

    Intervensi :
    • Catat intake dan output, berat diapers untuk output
      R : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output
    • Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV line
      R : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan
    • Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu
      R : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan
    • Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam
      R : Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu makan/minum.

Askep Anak Pneumonia

Sabtu, 01 Agustus 2009

Askep Anak DHF

Askep Anak DHF



Dengue Haemoragic Fever (DHF)

A. Pengertian

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman, 1990).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001).



B. Etiologi

  1. Virus dengue sejenis arbovirus.
  2. Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC.
    Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.


C. Patofisiologi


Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor
meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.


D. Tanda dan gejala
  1. Demam tinggi selama 5 – 7 hari.
  2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
  3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
  4. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
  5. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
  6. Sakit kepala.
  7. Pembengkakan sekitar mata.
  8. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
  9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

E. Pemeriksaan penunjang

  • Darah
    1. Trombosit menurun.
    2. HB meningkat lebih 20 %
    3. HT meningkat lebih 20 %
    4. Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
    5. Protein darah rendah
    6. Ureum PH bisa meningkat
    7. NA dan CL rendah

  • Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
    1. Rontgen thorax : Efusi pleura.
    2. Uji test tourniket (+)
Askep Anak DHF


F. Penatalaksanaan

  • Tirah baring
  • Pemberian makanan lunak
  • Pemberian cairan melalui infus
  • Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
  • Anti konvulsi jika terjadi kejang
  • Monitor tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).
  • Monitor adanya tanda-tanda renjatan
  • Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
  • Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

G. Tumbuh kembang pada anak usia 6-12 tahun


Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.
Perkembangan menitikberatkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.
  1. Motorik kasar
    • Loncat tali
    • Memukul
    • Badminton
    • Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.
  2. Motorik halus
    • Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
    • Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
  3. Kognitif
    • Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
    • Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah
    • Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal
    • Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang.
  4. Bahasa
    • Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
    • Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan
    • Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
    • Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan.



ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DHF

  1. Pengkajian
    Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Adapun tahapan-tahapannya meliputi :
    • Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.
    • Kaji riwayat keperawatan.
    • Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).

  2. Diagnosa keperawatan yang Muncul
    1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
    2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.

  3. Intervensi
    Diagnosa 1. :
    Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan , muntah dan demam.
    Tujuan : Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi
    Kriteria hasil :
    • Volume cairan tubuh kembali normal
    Intervensi :
    • Kaji KU dan kondisi pasien
    • Observasi tanda-tanda vital ( S,N,RR )
    • Observasi tanda-tanda dehidrasi
    • Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infus
    • Balance cairan (input dan out put cairan)
    • Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak
    • Anjurkan keluarga pasien untuk mengganti pakaian pasien yang basah oleh
      keringat.

    Diagnosa 2. :
    Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
    Tujuan : Hipertermi dapat teratasi
    Kriteria hasil :
    • Suhu tubuh kembali normal
    Intervensi :
    • Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh
    • Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak
    • Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat
    • Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.
    • Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari
    • kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas.

    Diagnosa 3. :
    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
    muntah, tidak ada nafsu makan.
    Tujuan : Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi
    Kriteria hasil :
    • Intake nutrisi klien meningkat
    Intervensi :
    • Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi
    • Timbang berat badan klien tiap hari
    • Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi
      sering
    • Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual
    • Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).
    • Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.
    • Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.