Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Jiwa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 April 2010

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Prilaku Kekerasan

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

Pengertian Perilaku Kekerasan

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995).

Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993).

Tanda dan Gejala :
  1. Muka merah
  2. Pandangan tajam
  3. Otot tegang
  4. Nada suara tinggi
  5. Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak
  6. Memukul jika tidak senang
Penyebab perilaku kekerasan

Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

Frustasi, seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.

Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.

Tanda dan gejala :
  1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
  2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
  3. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
  4. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
  5. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya. (Budiana Keliat, 1999)
Akibat dari Perilaku kekerasan

Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.

Tanda dan Gejala :
  • Memperlihatkan permusuhan
  • Mendekati orang lain dengan ancaman
  • Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
  • Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
  • Mempunyai rencana untuk melukai
Asuhan Keperawatan Prilaku Kekerasan

Pengkajian 

a. Aspek biologis
  • Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.
b, Aspek emosional
  • Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.
c. Aspek intelektual
  • Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.
d. Aspek sosial
  • Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan.
e. Aspek spiritual
  • Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.
Diagnosa Keperawatan

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/ amuk.

a. Data subjektif
  • Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya.
b. Data objektif
  • Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.
2. Perilaku kekerasan / amuk dengan gangguan harga diri: harga diri rendah.

a. Data Subjektif :
  • Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
  • Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
  • Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
b. Data Objektif
  • Mata merah, wajah agak merah.
  • Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
  • Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
  • Merusak dan melempar barang barang.
Intervensi Keperawatan

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/ amuk

Tujuan Umum :
  • Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya
Tujuan Khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Tindakan :
  1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
  2. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
  3. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
  4. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat.
  5. Beri rasa aman dan sikap empati.
  6. Lakukan kontak singkat tapi sering.
b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.

Tindakan :
  1. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
  2. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
  3. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.
c. Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.

Tindakan :
  1. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
  2. Observasi tanda perilaku kekerasan.
  3. Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
d. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Tindakan:
  1. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
  2. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
  3. Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai
e. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.

Tindakan:
  1. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
  2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
  3. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
f. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

Tindakan :
  1. Tanyakan kepada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat
  2. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
  3. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.
  • Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
  • Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal/ tersinggung.
  • Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara – cara marah yang sehat, latihan asertif, latihan manajemen perilaku kekerasan.
  • Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.
g. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.

Tindakan:
  1. Bantu memilih cara yang paling tepat.
  2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
  3. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
  4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
  5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
h. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan

Tindakan :
  1. Identifikasi kemampuan keluarga merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga selama ini.
  2. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
  3. Jelaskan cara – cara merawat klien
i. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).

Tindakan:
  1. Jelaskan jenis – jenis obat yang diminum klien pada klien dan keluarga.
  2. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.
  3. Jelaskan prinsip 5 benar minum obat (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
  4. Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
  5. Anjurkan klien melaporkan pada perawat / dokter jika merasakan efek yang tidak menyenangkan.
  6. Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.
2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah

a. Tujuan Umum :
  • Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
b. Tujuan khusus :
  • Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
  • Bina hubungan saling percaya,
  • Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
  • Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
  • Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

Tindakan :
  • Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
  • Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
  • Utamakan memberi pujian yang realistis.
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

Tindakan :
  • Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
  • Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.
4. Klien dapat menetapkan/ merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Tindakan :
  • Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan ( mandiri, bantuan sebagian, bantuan total ).
  • Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
  • Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuannya

Tindakan :
  • Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
  • Beri pujian atas keberhasilan klien.
  • Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

Tindakan :
  • Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
  • Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
  • Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
  • Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
Daftar Pustaka
  1. Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
  2. Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
  3. Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
  4. Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003
  5. Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Waham

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PROSES PIKIR ( WAHAM )

Pengertian

Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999).

Tanda dan Gejala :
  1. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan
  2. Klien tampak tidak mempunyai orang lain
  3. Curiga
  4. Bermusuhan
  5. Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
  6. Takut, sangat waspada
  7. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
  8. Ekspresi wajah tegang
  9. Mudah tersinggung (Azis R dkk, 2003)
Penyebab

Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan.

Tanda dan Gejala :
  1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
  2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
  3. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
  4. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
  5. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakhiri kehidupannya. ( Budi Anna Keliat, 1999)
Akibat dari Waham

Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.

Tanda dan Gejala :
  1. Memperlihatkan permusuhan
  2. Mendekati orang lain dengan ancaman
  3. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
  4. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
  5. Mempunyai rencana untuk melukai
Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

1. Masalah keperawatan : Perubahan proses pikir : waham

Data subjektif :
  • Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
Data objektif :
  • Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan/ realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung.
Diagnosa Keperawatan
  1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham.
  2. Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah.
Intervensi Keperawatan

1. Diagnosa 1: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berubungan dengan waham.

Tujuan umum :
  • Klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan.
Tujuan khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksinya.

Tindakan :
  • Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).
  • Jangan membantah dan mendukung waham klien : katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
  • Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi : katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
  • Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki. Rasional : Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi klien dari pada hanya memikirkannya.

Tindakan :
  • Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
  • Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
  • Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
  • Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
3. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa nyaman dan aman.

Tindakan :
  • Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
  • Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
  • Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
  • Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
  • Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
4. Klien dapat berhubungan dengan realitas. Rasional : Menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang ada.

Tindakan :
  • Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
  • Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
  • Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.
5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar. Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek samping obat.

Tindakan :
  • Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.
  • Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
  • Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
  • Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
6. Klien dapat dukungan dari keluarga. Rasional : Dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan mambentu proses penyembuhan klien.
Tindakan:
  • Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang : gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
  • Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga
2. Diagnosa 2: Perubahan proses pikir: waham berhubungan dengan harga diri rendah

Tujuan umum :
  • Klien tidak terjadi perubahan proses pikir: waham dan klien akan meningkat harga dirinya.
Tujuan khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya 

Tindakan :
  • Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
  • Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
  • Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
  • Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

Tindakan :
  • Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
  • Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis
  • Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

Tindakan :
  • Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
  • Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

Tindakan :
  • Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
  • Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
  • Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan 

Tindakan :
  • Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
  • Beri pujian atas keberhasilan klien
  • Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada

Tindakan :
  • Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
  • Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
  • Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
  • Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
Evaluasi
  1. Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi waham
  2. Klien menyadari kaitan kebutuhan yg tdk terpenuhi dg keyakinannya (waham) saat ini
  3. Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol waham
  4. Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien
  5. Klien menggunakan obat sesuai program
Daftar Pustaka
  1. Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 thed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
  2. Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
  3. Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
  4. Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003
  5. Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Penyimpangan Seksual

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PENYIMPANGAN SEKSUAL

Pengertian

Sex merupakan kegiatan fisik, sedangkan seksualitas bersifat total, multi-determined dan multi-dimensi. Oleh karena itu seksualitas bersifat holistik yang melibatkan aspek biopsikososial kultural dan spiritual

Proses Perkembangan Kesadaran Diri terhadap Seksualitas

Tingkat kesadaran diri perawat terhadap seksualitas mempunyai dampak langsung pada kemampuannya melakukan intervensi keperawatan, menurut Stuart & amp; Sundeen (1995), empat tahap proses kesadaran diri meliputi :

1. Tahap Ketidaksesuaian Kognitif.dapat diatasi dengan :
  • Menghindari tanggung jawab profesional dan tetap berpegang pada keyakinan pribadi
  • Memeriksa fakta bahwa seksualitas merupakan bagian integral dari keadaan manusia
2. Tahap Ansietas
  • Perawat mengalami ansietas, rasa takut dan syok
  • Perawat menyadari bahwa semua orang mengalami ketidakpastian, merasa tidak aman, bertanya-tanya dan bermasalah yang berkaitan dengan seksualitas
3. Tahap Marah
  • Kemarahan umumnya ditujukan pada diri sendiri, klien dan masyarakat
  • Perawat mulai mengakui bahwa masalah yang berkaitan dengan seks dan seksualitas bersifat emosional
4. Tahap Tindakan
  • Pada tahap terakhir ini, perasaan marah mulai berkurang
  • Perawat mulai menyadari bahwa menyalahkan diri sendiri atau masyarakat karena ketidaktahuannya, tidak akan membantu klien dengan masalah seksualnya
Dengan memahami ke empat tahap perkembangan kesadaran perawat tentang seksualitas, akan memudahkan dan memungkinkan perawat untuk menjalankan empat tugas utamanya sebagai perawat berkaitan dengan yang dikemukakan oleh Johnson, 1989 yaitu :
  1. Berpengetahuan tentang seksualitas dan norma masyarakat
  2. Menggunakan pengetahuan tersebut untuk memahami perbedaan antara perilaku dan sikap orang lain dengan diri sendiri sebagai akibat dari pengaruh sosial budaya
  3. Menggunakan pemahaman ini untuk membantu adaptasi klien dan keadaan sehat yang optimal
  4. Menyadari dan merasa nyaman dengan seksualitas diri sendiri
Faktor yang Mempengaruhi Seksualitas

1. Pertimbangan Perkembangan
  • Proses perkembangan manusia mempengaruhi aspek psikososial, emosional dan biologik kehidupan yang selanjutnya akan mempengaruhi seksualitas individu
  • Hanya aspek seksualitas yang telah dibedakan sejak fase konsepsi
2. Kebiasaan Hidup Sehat dan Kondisi Kesehatan
  • Tubuh, jiwa dan emosi yang sehat merupakan persyaratan utama untuk dapat mencapai kepuasan seksual
  • Trauma atau stress dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk melakukan kegiatan atau fungsi kehidupan sehari-hari yang tentunya juga mempengaruhi ekspresi seksualitasnya, termasuk penyakit
  • Kebiasaan tidur, istirahat, gizi yang adekuat dan pandangan hidup yang positif mengkontribusi pada kehidupan seksual yang membahagiakan
3. Peran dan Hubungan
  • Kualitas hubungan seseorang dengan pasangan hidupnya sangat mempengaruhi kualitas hubungan seksualnya
  • Cinta dan rasa percaya merupakan kunci utama yang memfasilitasi rasa nyaman seseorang terhadap seksualitas dan hubungan seksualnya dengan seseorang yang dicintai dan dipercayainya
  • Pengalaman dalam berhubungan seksual seringkali ditentukan oleg dengan siapa individu tersebut berhubungan seksual
4. Konsep Diri
  • Pandangan individu terhadap dirinya sendiri mempunyai dampak langsung terhadap seksualitas
5. Budaya, Nilai dan Keyakinan
  • Faktor budaya, termasuk pandangan masyarakat tentang seksualitas dapat mempengaruhi individu
  • Tiap budaya mempunyai norma-norma tertentu tentang identitas dan perilaku seksual
  • Budaya turut menentukan lama hubungan seksual, cara stimulasi seksual dan hal lain terkait dengan kegiatan seksual
6. Agama
  • Pandangan agama tertenmtu yang diajarkan, ternyata berpengaruh terhadap ekspresi seksualitas seseorang
  • Berbagai bentuk ekspresi seksual yang diluar kebiasaan, dianggap tidak wajar
  • Konsep tentang keperawanan dapat diartikan sebagai kesucian dan kegiatan seksual dianggap dosa, untuk agama tertentu
7. Etik
  • Seksualitas yang sehat menurut Taylor, Lilis & Le Mone (1997) tergantung pada terbebasnya individu dari rasa berssalah dan ansietas
  • Apa yang diyakini salah oleh seseorang, bisa saja wajar bagi orang lain
Penyimpangan Perilaku Seksual

1. Transeksualisme
  • Rasa tidak nyaman yang menetap dan adanya ketidakwajaran seks dengan preokupasi yang menetap (sedikitnya untuk 2 tahun) dengan menyisihkan karakteristik seks primer dan sekunder dan memperoleh karakteristik lawan jenis
2. Gangguan identitas jender pada masa kanak-kanak, remaja dan dewasa
  • Tekanan yang kuat dan menetap mengenai status sebagai laki-laki atau perempuan dengan keinginan yang kuat untuk berjenis kelamin lawan seks dan penanggalan struktur anatomis individu
3. Pedofilia
  • Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain yang melibatkan seorang anak atau lebih yang berusia 13 tahun kebawah
4. Eksibisionisme
  • Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain dengan memamerkan genitalnya kepada orang asing/orang yang belum dikenal
5. Sadisme Seksual
  • Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain yang menimbulkan kesakitan yang nyata atau stimulasi psikologis dan penderitaan fisik
6. Masokisme Seksual
  • Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan ,fantasi atau rangsangan lain yang melibatkan penghinaan, pemukulan, pengikatan atau hal-hal lain yang sengaja dilakukan untuk menderita
7. Voyeurisme
  • Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsunag selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain yang melibatkan pengamatan terhadap orang-orang yang telanjang, sedang menanggalkan pakaian atau sedang melakukan kegiatan seksual tanpa diketahui mereka
8. Fetisisme
  • Terjadi hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantsi atau rangsangan lain dengan menggunakan objek mati
9. Fetisisme Transvestik
  • Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selam 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain dengan menggunakan pakaian orang lain
10. Frotterurisme
  • Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berakhir 6 bulan antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain meraba tanpa persetujuam pihak lain
11. Gangguan keinginan Seksual Hipoaktif
  • Defisit yang menetap/berulang atau tidak terdapatnya fantasi seksual dan keinginan untuk melakukan kegiatan seksual
12. Gangguan Keengganan Seksual
  • Keengganan yang berlebihan dan menetap dan menghindari semua atau hampir semua kontak dengan pasangan seksual
13. Gangguan Rangsangan Seksual
  • Kegagalan yang menetap dan sebagian untuk mencapai atau mempertahankan respons fisiologis dari kegiatan seksual atau hilangnya kepuasan seksual selama kegiatan seksual dilakuak
14. Hambatan Orgasme
  • Keterlambatan yang menetap atau tidak adanya orgasme yang menyertai pada saat fase puncak hubungan seksual, walaupun menurut tenaga profesional terhadap intensitas, lama dan fokus yang sesuai dengan usia individu
Asuhan Keperawatan Pasien dengan Penyimpangan Seksual

Pengkajian

Berikut ini pedoman wawancara yang baik dalam mengumpulkan data yang berkaitan dengan aspek psikoseksual :
  1. Menggunakan pendekatan yang jujur dan berdasarkan fakta yang menyadari bahwa klien sedang mempunyai pertanyaan atau masalah seksual
  2. Mempertahankan kontak mata dan duduk dekat klien
  3. Memberikan waktu yang memadai untuk membahas masalah seksual, jangan terburu-buru
  4. Menggunakan pertanyaan yang terbuka, umum dan luas untuk mendapatkan informasi mengenai pengetahuan, persepsi dan dampak penyakit berkaitan dengan seksualitas
  5. Jangan mendesak klien untuk membicarakan mengenai seksualitas, biarkan terbuka untuk dibicarakan pada waktu yang akan datang
  6. Masalah citra diri, kegiatan hidup sehari-hari dan fungsi sebelum sakit dapat dipakai untuk mulai membahas masalah seksual\
  7. Amati klien selama interaksi, dapat memberikan informasi tentang masalah ap yang dibahs, bigitu pula masalah apa yang dihindari klien
  8. Minta klien untuk mengklarifikasi komunikasi verbal dan nonverbal yang belum jelas
  9. Berinisiatif untuk membahas masalah seksual berarti menghargai kjlien sebagai makhluk seksual, memungkinkan timbulnya pertanyaan tentang masalah seksual.
Perlu dikaji berbagai mekanisme koping yang mungkin digunakan klien untuk mengekspresikan masalah seksualnya, antara lain :
  1. Fantasi, mungkin digunakan untuk meningkatkan kepuasan sekasual
  2. Denial, mungkin digunakan untuk tidak mengakui adanya konflik atau ketidakpuasan seksual
  3. Rasionalisasi, mungkin digunakan untuk memperoleh pembenaran atau penerimaan tentang motif, perilaku, perasaan dan dorongan seksual
  4. Menarik Diri, mungkin dilakukan untuk mengatasi perasaan lemah, perasaan ambivalensi terhadap hubungan intim yang belum terselesaikan secara tuntas
Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

1. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi tubuh, penganiayaan fisik (seksual), depresi.

Batasan Karakteristik :
  • Tidak adanya hasrat untuk aktivitas seksual
  • Perasaan jijik, ansietas, panik sebagai respons terhadap kontak genital
  • Tidak adanya pelumasan atau sensasi subjektif dari rangsangan seksual selama aktivitas seksual
  • Kegagalan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis selama aktivitas seksual
  • Ketidakmampuan untuk mencapai orgasme atau ejakulasi
  • Ejakulasi prematur
  • Nyeri genital selama koitus
  • Kontriksi vagina yang mencegah penetrasi penis
Tujuan Jangka Pendek :
  • Pasien akan mengidentifikasi stresor yang berperan dalam penurunan fungsi seksual dalam 1 minggu
  • Pasien akan mendiskusikan patofisiologi proses penyakitnya yang menimbulkan disfungsi seksual dalam 1 minggu
  • Untuk pasien dengan disfungsi permanen karenan proses penyakit : pasien akan mengatakan keinginan untuk mencari bantuan profesional dari seorang terapis seks supaya belajar alternatif cara untuk mencapai kepuasan seksual dengan pasangannya dalam dimensi waktu ditetapkan sesuai individu
Tujuan Jangka Panjang :
  • Pasien akan mendapatkan kembali aktivitas seksual pada tingkat yang memuaskan untuk dirinya dan pasangannya (dimensi waktu ditentukan oleh situasi individu)
Intervensi :
  • Kaji riwayat seksual dan tingkat kepuasan sebelumnya dalam hubungan seksual
  • Kaji persepsi pasien terhadap masalah
  • Bantu pasien menetapkan dimensi waktu yang berhubungan dengan awitan masalah dan diskusikan apa yang terjadi dalam situasi kehidupannya pada waktu itu
  • Kaji alam perasaan dan tingkat energi pasien
  • Tinjau aturan pengobatan, observasi efek samping
  • Anjurkan pasien untuk mendiskusikan proses penyakit yang mungkin menambah disfungsi seksual
  • Dorong pasien untuk menanyakan hal-hal yang berkenaan dengan seksual dan fungsi yang mungkin menyusahkan dirinya
b. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan pilihan sksual yang berbeda, penyesuaian diri terhadap seksual terlambat.

Batasan Karakteristik :
  • Laporan adanya kesukaran, pembatasan atau perubahan dalam perilaku atau aktivitas seksual
  • Laporan bahwa getaran seksual hanya dapat dicapai melalui praktik yang berbeda
  • Hasrat untuk mengalami hubungan seksual yang memuaskan dengan individu lain tanpa butuh getaran melalui praktik yang berbeda
Tujuan Jangka Pendek :
  • Pasien akan mengatakan aspek-aspek seksualitas yang ingin diubah
  • Pasien dan pasangannya akan saling berkomunikasi tentang cara-cara dimana masing-masing meyakini hubungan seksual mereka dapat diperbaiki
Tujuan Jangka Panjang :
  • Pasien akan memperlihatkan kepuasan dengan pola seksualitasnya sendiri
  • Pasien dan pasangannya akan memperlihatkan kepuasan dengan hubungan seksualnya
Intervensi :
  • Ambil riwayat seksual, perhatikan ekspresi area ketidakpuasan pasien terhadap pola seksual
  • Kaji area-area stress dalam kehidupan pasien dan periksa hubungan dengan pasangan seksualnya
  • Catat faktor-faktor budaya, sosial, etnik dan religius yang mungkin menambah konflik yang berkenaan dengan praktik seksual yang berbeda
  • Terima dan jangan menghakimi
  • Bantu therapy dengan perencanaan modifikasi perilaku untuk membantu pasien yang berhasrat untuk menurunkan perilaku-perilaku seksual yang berbeda
  • Jika perubahan pola seksualitas berhubungan dengan penyakit atau pengobatan medis, berikan informasi untuk pasien dan pasangannya berkenaan dengan hubungan antara penyakit dan perubahan seksual
Hasil Pasien Yang Diharapkan / Kriteria Pulang
  1. Pasien mampu menghubungkan faktor-faktor fisik atau psikososial yang mengganggu fungsi seksual
  2. Pasien mampu berkomunikasi dengan pasangannya tentang hubungan seksual mereka tanpa merasa tidak nyaman
  3. Pasien dan pasangannya mengatakan keinginan dan hasrat untuk mencari bantuan dari terapi seks yang professional
  4. Pasien mengatakan kembali bahwa aktivitas seksualnya ada pada tahap yang memuaskan dirinya dan pasangannya
  5. Pasien dan pasangannya mengatakan modifilkasi dalam aktivitas seksual dalam berespon pada keterbatasan karena penyakit atau tindakan medis

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Halusinasi

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HALUSINASI

Pengertian

Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001).

Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera (Isaacs, 2002).

Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution, 2003).

Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2005).

Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin, 2005).

Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart, 2007).
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya rangsang apapun (Maramis, 2005).

Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007).

Dari beberapa pengertian yang dikemukan oleh para ahli mengenai halusinasi di atas, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa halusinasi adalah persepsi klien melalui panca indera terhadap lingkungan tanpa ada stimulus atau rangsangan yang nyata. Sedangkan halusinasi pendengaran adalah kondisi dimana pasien mendengar suara, terutamanya suara–suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.

Etiologi

Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah :

Faktor predisposisi

1. Biologis : Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:
  • Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
  • Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
  • Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
2. Psikologis : Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.

3. Sosial Budaya : Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.

Faktor Presipitasi

Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006).

Gejala Halusinasi

Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut:
  1. Bicara sendiri.
  2. Senyum sendiri.
  3. Ketawa sendiri.
  4. Menggerakkan bibir tanpa suara.
  5. Pergerakan mata yang cepat
  6. Respon verbal yang lambat
  7. Menarik diri dari orang lain.
  8. Berusaha untuk menghindari orang lain.
  9. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.
  10. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah.
  11. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik.
  12. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.
  13. Sulit berhubungan dengan orang lain.
  14. Ekspresi muka tegang.
  15. Mudah tersinggung, jengkel dan marah.
  16. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.
Jenis Halusinasi

1. Pendengaran
  • Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
2. Penglihatan
  • Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
3. Penghidung
  • Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
4. Pengecapan
  • Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
5. Perabaan
  • Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6. Cenestetik
  • Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makan atau pembentukan urine.
Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase menurut Stuart dan Laraia (2001) dan setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu :

Fase I :
  • Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik sendiri.
Fase II :
  • Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita.
Fase III :
  • Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain.
Fase IV :
  • Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan.
Diagnosa Keperawatan 

1. Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.

Tujuan umum :
  • Tidak terjadi perilaku kekerasan yang diarahkan kepada diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Tujuan khusus :
  • Klien dapat membina hubungan saling percaya Ekspresi wajah bersahabat, klien nampak tenang, mau berjabat tangan, membalas salam, mau duduk dekat perawat.
Intervensi :
  • Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/ komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara verbal maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai, jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji, bersikap empati dan menerima klien apa adanya. Rasional : Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi perawat dan klien.
  • Dorong klien mengungkapkan perasaannya. Rasional : Mengetahui masalah yang dialami oleh klien.
  • Dengarkan klien dengan penuh perhatian dan empati. Rasional : Agar klien merasa diperhatikan.
TUK1 :
  • Klien dapat mengenal halusinasinya.
  • Klien dapat membedakan antara nyata dan tidak nyata.
Intervensi :
  • Adakan kontak sering dan singkat. Rasional : Menghindari waktu kosong yang dapat menyebabkan timbulnya halusinasi.
  • Observasi segala perilaku klien verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi. Rasional : Halusinasi harus kenal terlebih dahulu agar intervensi efektif
  • Terima halusinasi klien sebagai hal yang nyata bagi klien, tapi tidak nyata bagi perawat. Rasional : Meningkatkan realita klien dan rasa percaya klien.
TUK 2 :
  • Klien dapat menyebutkan situasi yg dapat menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi.
 Intervensi :
  • Diskusikan dengan klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan situasi. Rasional : Peran serta aktif klien membantu dalam melakukan intervensi keperawatan.
  • Diskusikan dengan klien faktor predisposisi terjadinya halusinasi. Rasional : Dengan diketahuinya faktor predisposisi membantu dalam mengontrol halusinasi.
TUK 3 :
  • Klien dapat mengontrol halusinasi.
  • Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan apabila halusinasinya timbul.
Intervensi :
  • Diskusikan dengan klien tentang tindakan yang dilakukan bila halusinasinya timbul. Rasional : Mengetahui tindakan yang dilakukan dalam mengontrol halusinasinya.
  • Klien akan dapat menyebutkan cara memutuskan halusinasi yaitu dengan melawan suara itu dengan mengatakan tidak mau mendengar, lakukan kegiatan : menyapu/mengepel, minum obat secara teratur, dan lapor pada perawat pada saat timbul halusinasi.
  • Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya. Rasional : Meningkatkan pengetahuan klien tentang cara memutuskan halusinasi.
  • Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi. Rasional : Hasil diskusi sebagai bukti dari perhatian klien atas apa yg dijelaskan.
  • Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasinya. Rasional : Meningkatkan harga diri klien.
TUK 4 :
  • Klien dapat memanfaatkan obat dalam mengontrol halusinanya.
  • Klien mau minum obat dengan teratur.
Intervensi :
  • Diskusikan dengan klien tentang obat untuk mengontrol halusinasinya. Rasional : Meningkatkan pengetahuan klien tentang fungsi obat yang diminum agar klien mau minum obat secara teratur.
TUK 5 :
  • Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol halusinasinya.
  • Klien mendapat sistem pendukung keluarga.
Intervensi :
  • Kaji kemampuan keluarga tentang tindakan yg dilakukan dalam merawat klien bila halusinasinya timbul. Rasional : Mengetahui tindakan yang dilakukan oleh keluarga dalam merawat klien.
  • Diskusikan juga dengan keluarga tentang cara merawat klien yaitu jangan biarkan klien menyendiri, selalu berinteraksi dengan klien, anjurkan kepada klien untuk rajin minum obat, setelah pulang kontrol 1 x dalam sebulan. Rasional : Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien.

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Kepribadian

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN KPRIBADIAN

Pengertian

Kepribadian : Sikap dan perilaku yang menggambarkan diri individu secara utuh dan digunakan untuk menanggapi, berhubungan dan berpikir tentang diri dan lingkungan dalam konteks hubungan personal yg luas.

Gangguan kepribadian dapat diidentifikasi dgn sikap dan perilaku yg tidak fleksibel, mal adapatif, fungsi sosial dan pekerjaan terganggu.

Rentang Respon

Kepribadian sehat   gangguan ciri kepribadian    psikokosis

Kepribadian sehat : sikap dan perilaku individu yang dapat diterima oleh lingkungan tanpa mengganggu integritas dirinya

Gangguan ciri kepribadian : Suatu sikap dan perilaku yang tidak fleksibel, mal adaptif yang dapat mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan

Psikosis : suatu kondisi yang menunjukkan gangguan berat dengan ditandai gangguan kemampuan daya nilai realitas

Pembeda individu normal vs g3 kepribadian
  1. Adaptasi yang tidak fleksibel
  2. Lingkaran setan antara cara persepsi
  3. Kemampuan yang lemah
Pengkajian

1. Faktor Predisposisi
  • Tumbuh kembang : g3 dalam perkembangan persepsi, berpikir dan hubungan dengan orang lain
  • Hubungan dalam keluarga : Pola asuh dan interaksi dalam keluarga yang tidak mendukung proses tumbang
2. Faktor Presipitasi
  • Perpisahan/ kehilangan : orang berarti dalam waktu sementara/ lama (perceraian, kematian atau dirawat di RS
  • Penyakit kronis dan kecacatan : cenderung isolasi diri sehingga g3 pola hubungan
  • Sosial budaya : perubahan status sosek ( perusahaan bangkrut tau tinggal di tempat baru )
Perilaku dan Mekanisme Koping
  1. Jenis gangguan Skizoid : mekanisme koping isolasi
  2. Jenis gangguan Histerionik : mekanisme koping disosiasi,menyerang dan mengingkari
  3. Jenis gangguan Narsistik : mekanisme koping manipulasi, intelektualisasi
  4. Jenis gangguan Boderline : mekanisme koping marah, krisis
  5. Jenis gangguan Menarik diri : mekanisme koping isolasi
  6. Jenis gangguan Tergantung : mekanisme koping ketergantungan
Perilaku Terkait Gangguan Kepribadian

1. Kepribadian histerionik
  • Ciri pokok : sebagai suatu pola pervasif dari emosional dan mencari perhatian yang berlebihan.
  • Gejala : emosional tinggi, mendramatisasi diri, menarik perhatian, manipulatif, toleransi rendah, tidak rasional, tempentantrum, manipulatif, reaksi berlebihan pada stres
2. Kepribadian narsisitik
  • Tidak hangat, tidak responsive, terikat pada aturan (tertib, rapi), perfeksionistik, seriously (tidak dapat rileks, tertawa dan menangis ), hubungan sosial terbatas.
3. Kepribadian borderline
  • Sukar membina hubungan sosial dan personal, depresi, mengeluh perasaan bosan dan hampa, tidak percaya pada orang lain, perasaan sepi, sangat sensitif terhadap penolakan, tidak mampu mengatasi cemas dan frustasi, kontrol diri kurang
4. Kepribadian tergantung
  • Tidak mandiri, orang lain yang mengambil keputusan tentang dirinya, kurang percaya diri, vitalitas dan mobilitas kurang
5. Kepribadian Kompulsif
  • Tidak hangat, tidak responsif, terikat pada aturan (tertib,rapi ), perfeksionistik, seriusly ( tidak dapat rileks, ketawa & amp; menangis), hubungan sosial terbatas
6. Kepribadian menarik diri / menghindar
  • Hiperaktif pada penolakan, menghindari hubungan sosial kecuali dengan jaminan (diterima dan tidak dikritik), menarik diri, temannya terbatas, harga diri rendah, gelisah dan malu jika berbicara dengan orang lain, ingin dikasihani & amp; diterima
7. Kepribadian pasif-agresif
  • Menolak tuntutan untuk berpenampilan adekuat (sosial, pekerjaan), penolakan tidak diungkapkan dengan langsung (menangguhkan, buang2 waktu dan pelupa)
8. Kepribadian schizoid
  • Emosi dingin dan tidak peduli, tanpa kehangatan dan kelembutan, tidak dapat membedakan pujian, kritik pada perasaan orang lain, menolak kontak mata, menghindari komunikasi spontan, tidak tertarik dengan lawan jenis, pikiran paranoid, pikiran magis & masalah komunikasi
Diagnosa Keperawatan
  1. Kerusakan interaksi sosial : isolasi sosial
  2. Gangguan alam perasaan : depresi
  3. Gangguan hubungan dengan orang lain : dependent
  4. Gangguan hubungan dengan orang lain : manipulatif
  5. Isolasi sosial
  6. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
  7. Resti amuk
  8. Resti merusak diri
Intervensi Keperawatan

Tujuan umum :
  1. Mencegah terjadinya gangguan jiwa berat
  2. Membantu mengembangkan kemampuan hubungan sosial
  3. Mendorong partisipasi keluarga dalam merawat klien
Implementasi Keperawatan

1. Kepribadian Histerik
  • Bekerja sama dengan klien dan keluarga
  • Terapi perilaku untuk membantu pencapaian tumbang
  • Bantu orang tua untuk mendisiplinkan anak
  • Bantu anak beradapatasi dalam kelompok
  • Respon perawat untuk dipengaruhi gender
2. Kepribadian narsistik
  • Bantu klien mengemembangkan harga diri yang kuat
  • Fasilitasi ledakan rasa marah dan bermusuhan
  • Tanggapi setiap perilaku klien
  • Beri penjelasan singkat, jelas dan terbatas
  • Bantu klien menyadari perasaan, kemampuan dan keterbatasannya
  • Tetapkan harapan yang jelas, konsisten & amp; mantap
  • Bantu klien melepaskan diri dari pengalaman yang menyakitkan
  • Beri umpan balik perilaku klien
  • Libatkan dalam terapi kelompok
  • Lakukan terapi keluarga
3. Kepribadian Borderline
  • Ciptakan lingkungan yang terapeutik
  • Kerja sama dengan klien dan keluarga
  • Lakukan kontrak dengan klien dalam pencapaian tujuan
  • Hindari tawar menawar
  • Gunakan contoh peran, teknis reinforcement
  • Konfrontasi perilaku klien yang tidak sesuai
  • Identifikasi perilaku destruktif & amp; pantau perilaku regresi penanganan segera
  • Identifikasi kebutuhan klien yang membutuhkan
  • Libatkan dalam terapi kelompok
  • Berikan terapi dengan tepat
4. Kepribadian Tergantung
  • Rancang batasan usia yang sesuai dan konsisten
  • Libatkan keluarga dan orang terdekat
  • Hindari perilaku balas dendam dan tekankan tanggung jawab terhadap perilaku, pikiran dan perasaan
  • Beri kesempatan untuk mengontrol kehidupan perilakunya
  • Tunjukkan penerimaan/ pengakuan terhadap keputusan klien
  • Tetap beri informasi tentang kegiatan terapi
  • Arahkan klien pada pemikiran rencana masa depan
5. Kepribadian Kompulsif
  • Ekspresif psikoterapi
  • Diskusikan efek stress dan beri saran
  • Cegah ketidak jelasan
  • Beri penekanan pada kebutuhan dengan contoh konkrit
  • Strategi perilaku dan kognitif sangat berguna
  • Terapi kelompok untuk orang tua dan keluarga
6. Kepribadian Menghindar
  • Bina hubungan saling percaya
  • Bantu klien menerima kritik orang lain
  • Bantu klien mengkritik diri sendiri
  • Bantu klien agar keluar dari lingkaran kritik dengan mengkonfrontasi kesepiannya
  • Bantu klien untuk sosialisasi dan mendapat teman
  • Beri reinforcement akan kemampuan yang telah dimiliki klien
7. Kepribadian Pasif – Agresif
  • Beri batasan perilaku dan lingkungan
  • Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan secara konstruktif
  • Beri kesempatan berpengalaman dalam kelompok
  • Tingkatkan hubungan sosial
  • Lakukan terapi perilaku
8. Kepribadian Skizoid
  • Lakukan kontrak P – K
  • Tingkatkan sosialisasi
  • Hindari isolasi dan perawatan institusional
  • Libatkan dalam terapi okupasi dan terapi kelompok
Evaluasi
  1. Klien mampu berhubungan dengan orang lain secara efektif
  2. Perilaku klien merefleksikan kemampuan dalam hubungan : percaya, terbuka dan kerja sama
  3. Sumber koping

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Harga Diri Rendah

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH

Pengertian

Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri.

Proses Terjadinya Masalah

Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang diriya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart & Sunden, 1995). Konsep diri tidak terbentuk sejak lahir namun dipelajari. 

Salah satu komponen konsep diri yaitu harga diri dimana harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri (Keliat, 1999). Sedangkan harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah. Harga diri rendah jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan orang lain. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain.

Gangguan harga diri rendah di gambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri secara sosial.

Faktor yang mempegaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yag tidak realistis. Sedangkan stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti :

1. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menaksika kejadian yang megancam.

2. Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jeis transisi peran :
  • Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk penyesuaian diri.
  • Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
  • Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan.
Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara: 

1. Situasional
  • Yaitu terjadi trauma yang tiba tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja dll. Pada pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pemasangan kateter, pemeriksaan pemeriksaan perianal dll.), harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena di rawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak menghargai.
2. Kronik
  • Yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama
Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu di Kaji

1. Masalah keperawatan
  • Resiko isolasi sosial: menarik diri.
  • Gangguan konsep diri: harga diri rendah.
  • Berduka disfungsional.
2. Data yang perlu dikaji

a. Data subyektif:
  • Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
b. Data obyektif:
  • Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.
Diagnosa Keperawatan
  1. Resiko isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
  2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional.
Intervensi Keperawatan

1. Tujuan umum :
  • Sesuai masalah (problem).
2. Tujuan khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.

Tindakan :
  • Bina hubungan saling percaya : Salam terapeutik, Perkenalan diri, Jelaskan tujuan inteniksi, Ciptakan lingkungan yang tenang, Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan).
  • Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
  • Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
  • Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

Tindakan :
  • Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
  • Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis.
  • Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
c. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan. 

Tindakan :
  • Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan.
  • Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.
d. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Tindakan :
  • Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
  • Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
  • Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan.

Tindakan :
  • Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
  • Beri pujian atas keberhasilan
  • Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.
f. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

Tindakan:
  • Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
  • Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
  • Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
  • Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
Daftar Pustaka
  1. Boyd dan Nihart. (1998). Psychiatric Nursing& Contemporary Practice. 1st edition. Lippincot- Raven Publisher: Philadelphia.
  2. Carpenito, Lynda Juall. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta.
  3. Schultz dan Videback. (1998). Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5th edition. Lippincott- Raven Publisher: philadelphia.
  4. Keliat, Budi Anna dll. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.. EGC: Jakarta.
  5. Stuart dan Sundeen. (1995). Buku Saku Keperawatan Jwa. Edisi 3. EGC: Jakarta.
  6. Townsend. (1995). Nursing Diagnosis in Psychiatric Nursing a Pocket Guide for Care Plan Construction. Edisi 3.Jakarta : EGC

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Kognitif

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN KOGNITIF

Pengertian

Kognitif adalah : Kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan. (Stuart and Sundeen, 1987. Hal.612).
Gangguan kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan pasien untuk berpikir akan dipengaruhi oleh keadaan otak .

Fungsi Otak

1. Lobus Frontalis
  • Pada bagian lobus ini berfungsi untuk : Proses belajar : Abstraksi, Alasan
2. Lobus Temporal
  • Diskriminasi bunyi
  • Perilaku verbal
  • Berbicara
3. Lobus Parietal
  • Diskriminasi waktu
  • Fungsi somatic
  • Fungsi motorik
4. Lobus Oksipitalis
  • Diskriminasi visual
  • Diskriminasi beberapa aspek memori
5. Sisitim Limbik
  • Perhatian
  • Flight of idea
  • Memori
  • Daya ingat
Secara umum apabila terjadi gangguan pada otak, maka seseorang akan mengalami gejala yang berbeda, sesuai dengan daerah yang terganggu yaitu :

1. Gangguan pada lobus frontalis , akan ditemukan gejala-gejala sbb :
  • Kemampuan memecahkan masalah berkurang
  • Hilang rasa sosial dan moral
  • Impilsif
  • Regres
2. Gangguan pada lobus temporalis akan ditemukan gejala sbb :
  • Amnesia
  • Dimensia
3. Gangguan pada lobus parietalis dan oksipitalis akan ditemukan gejala gejala yang hampir sama, tapi secara umum akan terjadi disorientasi

4. Gangguan pada sistim limbik akan menimbulkan gejala yang bervariasi antara lain :
  • Gangguan daya ingat
  • Memori
  • Disorientasi
Pengkajian

a. Faktor Predisposisi
  • Gangguan fungsi susunan saraf pusat
  • Gangguan pengiriman nutrisi
  • Gangguan peredaran darah
b. Faktor Presipitasi
  • Hipoksia
  • Anemia hipoksik
  • Histotoksik hipoksia
  • Hipoksemia hipopoksik
  • Iskemia hipoksik
Suplai darah ke otak menurun/berkurang

1. Gangguan metabolisme

Malfungsi endokrin : Underproduct / Overproduct Hormon
  • Hipotiroidisme
  • Hipertiroidisme
  • Hipoglikemia
  • Hipopituitarisme
2. Racun, Infeksi
  • Gagal ginjal
  • Syphilis
  • Aids Dement Comp
3. Perubahan Struktur
  • Tumor
  • Trauma
4. Stimulasi Sensori
  • Stimulasi sensori berkurang
  • Stimulasi berlebih
c. Perilaku

Delirum adalah : Suatu keadaan proses pikir yang terganggu, ditandai dengan: Gangguan perhatian, memori, pikiran dan orientasi
Demensia : Suatu keadaan respon kognitif maladaptif yang ditandai dengan hilangnya kemampuan intelektual/ kerusakan memori, penilaian, berpikir abstrak.

Karakteristik Delirium dan demensia
  • Biasanya tiba-tiba
  • Biasanya singkat/ < 1 bulan
  • Racun, infeksi, trauma,
  • Fluktuasi tingkat kesadaran 
  • Disorientasi 
  • Gelisah
  • Agitasi
  • Biasanya perlahan 
  • Biasanya lama dan progressif 
  • Paling banyak dijumpai pada usia & gt; 65 th
  • Hipertensi, hipotensi, anemia. Racun, deficit vitamin, tumor atropi jaringan otak
  • Hilang daya ingat
  • Kerusakan penilaian
  • Perhatian menurun
  • Perilaku sosial tidak
  • Ilusi
  • Halusinasi
  • Pikiran tidak teratur
  • Gangguan penilaian dan pengambilan keputusan
  • Afek labil
  • Sesuai
  • Agitasi
d. Mekanisme koping
  • Dipengaruhi pengalaman masa lalu
  • Regresi
  • Rasionalisasi
  • Denial
  • Intelektualisasi
e. Sumber Koping
  • Pasien
  • Keluarga
  • Teman
Diagnosa Keperawatan
  • Anxietas
  • Komunikasi, kerusakan verbal
  • Resiko tinggi terhadap cedera
  • Sindrom defisit perawatan diri ( mandi,/kebersihan diri, makan, berpakaian, berhias, toileting
  • Perubahan sensori/perseptual ( penglihatan, pendengaran, pengecapan,
  • perabaan, dan penghidu)
  • Gangguan pola tidur
  • Perubahan proses pikir ( Stuart and Sundeen, 1995.hal 556 )
a. Gangguan proses pikir berhubungan dengan gangguan otak ditandai dengan :
  • Interpretasi lingkungan yang tidak akurat
  • Kurang memori saat ini
  • Kerusakan kemampuan memberikan rasional
  • Konfabulasi
b. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan :
  • Ketakutan
  • Disorientasi yang ditandai dengan perilaku agitasi
c. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan :
  • Kerusakan kognitif
  • Kehilangan memori saat ini
  • Konfabulasi
Intervensi Keperawatan

a. Identifikasi hasil :
  • Pasien dapat mencapai fungsi kognitif yang optimal
b. Prioritas :
  • Menjaga keselamatan hidup
  • Pemenuhan kebutuhan bio-psiko-sosial
  • Libatkan keluarga
  • Pendidikan kesehatan mental
c. Usaha perawatan :
  • Memfungsikan pasien seoptimal mungkin sesuai kemampuan pasien
Implementasi Keperawatan

1. Intervensi Delirium :

a. Kebutuhan Fisiologis
  • Prioritas : menjaga keselamatan hidup
  • Kebutuhan dasar dengan mengutamakan nutrisi dan cairan
  • Jika pasien sangat gelisah perlu :
  • Pengikatan untuk menjaga therapi, tapi sedapat mungkin harus
  • dipertimbangkan dan jangan ditinggal sendiri
  • Gangguan tidur : Kolaborasi pemberian obat tidur, Gosok punggung, Beri susu hangat, Berbicara lembut, Libatkan keluarga, Temani menjelang tidur, Buat jadwal tetap untuk bangun dan tidur, Hindari tidur diluar jam tidur, Mandi sore dengan air hangat, Hindari minum yang dapat mencegah tidur seperti : kopi, dll, Lakukan methode relaksasi seperti : napas dalam
b. Disorientasi :
  • Ruangan yang terang
  • Buat jam, kalender dalam ruangan
  • Lakukan kunjungan sesering mungkin
  • Orientasikan pada situasi lingkungan
  • Beri nama/ petunjuk/ tanda yang jelas pada ruangan/ kamar
  • Orientasikan pasien pada barang milik pribadinya ( kamar, tempat tidur, lemari, photo keluarga, pakaian, sandal ,dll)
  • Tempatkan alat-alat yang membantu orientasi massa
  • Ikutkan dalam therapi aktifitas kelompok dengan program orientasi realita (orang, tempat, waktu).
c. Halusinasi
  • Lindungi pasien dan orang lain dari perilaku merusak diri
  • Ruangan : Hindari dari benda-benda berbahaya, Barang-barang seminimal mungkin
  • Perawatan 1 – 1 dengan pengawasan yang ketat
  • Orientasikan pada realita
  • Dukungan dan peran serta keluarga
  • Maksimalkan rasa aman
  • Sikap yang tegas dari pemberi/ pelayanan perawatan (konsisten)
d. Komunikasi
  • Pesan jelas
  • Sederhana
  • Singkat dan beri pilihan terbatas
e. Pendidikan kesehatan
  • Mulai saat pasien bertanya tentang yang terjadi pada keadaan
  • sebelumnya
  • Seharusnya perawat harus harus tahu sebelumnya tentang : Masalah pasien, Stressor, Pengobatan, Rencana perawatan, Usaha pencegahan, Rencana perawatan dirumah
  • Penjelasan diulang beberapa kali
  • Beri petunjuk lisan dan tertulis
  • Libatkan anggota keluarga agar dapat melanjutkan perawatan dirumah dengan baik sesuai rencana yang telah ditentukan
2. Intervensi Demensia :

a. Orientasi
  • Tujuan : Membentuk pasien berfungsi dilingkungannya
  • Tulis nama petugas pada kamar pasien jelas, besar, sehingga dapat dibaca pasien
  • Orientasikan pada situasi lingkungan
  • Perhatikan penerangan terutama dimalam hari
  • Kontak personal dan fisik sesring mungkin
  • Libatkan dalam kegiatan T.A.K
  • Tanamkan kesadaran : Mengapa pasien dirawat, Memberikan percaya diri, Berhubungan dengan orang lain, Tanggap situasi lingkungan dengan menggunakan panca indera, Interaksi personal
  • Identifikasi proses pulang
b. Komunikasi
  • Membina hubungan saling percaya : Umpan balik yang positif, Tentramkan hati, Ulangi kontrak, Respek, pendengaran yang baik, Jangan terdesak, Jangan memaksa
  • Komunikasi verbal : Jelas, Ringkas, Tidak terburu buru
  • Topik percakapan dipilih oleh pasien
  • Topik buat spesipik
  • Waktu cukup untuk pasien
  • Pertanyaan tertutup
  • Pelan dan diplomatis dalam menghadapi persepsi yang salah
  • Empati
  • Gunakan tehnik klarifikasi
  • Summary
  • Hangat
  • Perhatian
c. Pengaturan koping
  • Koping yang selama dipakai ini yang positif positif dimaksimalkan dan yang negatif diminimalkan
  • Bantu mencari koping baru yang posistf
d. Kurangi agitasi
  • Didorong melakukan sesuatu yang tidak biasa dan tidak jelas
  • Beri penjelasan
  • Beri pilihan
  • Penyaluran energi : Perawatan mandiri, Menggunakan kekuatan dan kemampuan dengan tepat, misalnya berolahraga
  • Saat agitasi : Tetap senyum, Tunjukkan sikap bersahabat, Empati
e. Keluarga dan masyarakat
  • Siapkan keluarga untuk menerima keadaan pasien
  • Siapkan fasilitas dalam berinteraksi dengan dimasyarakat
  • Perlu bantuan dalam merawat 24 jam dirumah, yang diprogramkan melalui : Puskesmas, Pos-pos pelayanan kesehatan dirumah sakit
f. Farmakologi
  • Tergantung penyebab gangguan, seperti : Penyakit Alzheimer’s
  • Pada orang tua harus hati-hati, karena keadaan yang sensitive
g. Wandering
  • Perilaku yang harus diperhatikan oleh pemberi perawatan
h. Therapeutik Milieu
  • Stimulasi kognitif
i. Intervensi interpersonal
  • Psychotherapi
  • Life review therafi
  • Untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan individu dan kelompok dengan saling menceritakan riwayat hidup latihan dan terafi kognitif
  • Therapi relaksasi
  • Kelompok pendukung dan konseling
j. Gangguan daya ingat
  • Mulai percakapan dengan menyebut nama anda dan panggil nama pasien
  • Hindarkan konfrontasi atas pernyataan pasien yang salah
  • Penataan barang pribadi jangan dirubah
  • Lakukan program orientasi
Daftar Pustaka
  1. Fortinash, C.M, dan Holloday, P.A. (1991). Psychiatric nursing care plan. St.Louis : Mosby year book
  2. Keltner, N.L, Schueke, L.H dan Bostrom, CE (1991). Psychiatric nursing :a psycho therapeutic management approach. St. Louis : Mosby year book
  3. Stuart, Gw. and Sundeen S.J (1995). Perbandingan Delirium, Depresi dan Demensia.St.louis : Mosby year book
  4. Stuart, Gw. And Sundeen S.J (1995). Pendidikan Kesehtan Keluarga . St. Louis Mosby Year book
  5. Stuart, Gw. And Sundeen S,J (1987). Petunjuk Komunikasi dengan Pasien Demensia.St. Louis Mosby year Book
  6. Towsend, M.C (1993). Psychiatric Mental Health Nursing : Concept of Care .Philadelphia, 2nd, Davis Company.
  7. Wilson, H.S, and Kneils, C.R . (1992). Psychiatric Nursing . California : Addison

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Skizofrenia

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN SKIZOFRENIA

Pengertian 

Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46).

Penyebab

1. Keturunan
  • Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ).
2. Endokrin
  • Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.
3. Metabolisme
  • Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik.
4. Susunan saraf pusat
  • Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan.
5. Teori Adolf Meyer
  • Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).
6. Teori Sigmund Freud
  • Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yang berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme dan (3) kehilangan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.
7. Eugen Bleuler
  • Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).
8. Teori lain
  • Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui.
9. Ringkasan
  • Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnya terhadap suatu penyakit Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ).
Pembagian Skizofrenia

Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara lain :

1. Skizofrenia Simplek
  • Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan.
2. Skizofrenia Hebefrenia
  • Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti manerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinasi banyak sekali.
3. Skizofrenia Katatonia
  • Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.
4. Skizofrenia Paranoid
  • Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.
5. Episode Skizofrenia akut
  • Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.
6. Skizofrenia Residual
  • Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia.
7. Skizofrenia Skizo Afektif
  • Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejala depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.
Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik

1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ;
  • Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau (disorganized).
  • Tidak terdapat waham yang sistemik
  • Efek yang datar dan tak serasi / ketolol – tololan.
2. Gejala Klinik : Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa :
  • Inkoherensi yang jelas
  • Afek datar tak serasi atau ketolol – tololan.
  • Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.
  • Waham / halusinasi yang terpecah – pecah isi temanya tidak terorganisasi sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran penyerta yang sering di jumpai.
  • Menyertai pelanggaran (mennerism) berkelakar.
  • Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial.
  • Berbagai perilaku tanpa tujuan.
Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan – pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial terjadi paling hebat di banding tipe yang lain.

Konsep Dasar Halusinasi

Pengertian

Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal pikiran dan rangsang eksternal (dunia luar) klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata, misalnya : klien menyatakan mendengar suara. Padahal tidak ada orang yang bicara.

Proses terjadinya halusinasi

1. Fase pertama
  • Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang memuncak dan tidak dapat di selesaikan, klien mulai melamun dan memikirkan hal – hal yang menyenangkan cara ini hanya menolong sementara.
2. Fase kedua
  • Kecemasan meningkatkan, menurun dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin orang lain tahu ia tetap dapat mengontrol.
3. Fase ketiga.
  • Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengotrol klien, Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.
4. Fase keempat
  • Halusinasi berubah menjadi mengancam memerintah dan memarahi klien, klien menjadi takut, tidak berdaya hilang kontrol dan tidak berdaya, hilang dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan
Tanda – tanda halusinasi 

Menurut diri, tersenyum sendiri duduk terpaku, bicara sendiri memandang satu arah, menyerang tiba – tiba, arah gelisah.

Jenis halusinasi

1. Halusinasi dengar
  • Dengar suatu membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam tetapi tidak ada sumbernya disekitarnya.
2. Halusinasi terlihat
  • Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapi klien yakin ada.
3. Halusinasi penciuman
  • Menyatakan mencium bau bunga kemenyan yang tidak dirasa orang lain dan ada sumber.
4. Halusinasi kecap
  • Merasa mengecap sesuatu rasa di mulut tetapi tidak ada.
5. Halusinasi raba
  • Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada.
Pengkajian

Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (stuart dan Sunden, 1998). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Isi pengkajian meliputi :
  • Identitas klien
  • Keluhan utama/alasan masuk
  • Faktor predisposisi
  • Dimensi fisik / biologis
  • Dimensi psikososial
  • Status mental
  • Kebutuhan persiapan pulang
  • Mekanisme koping
  • Masalah psikososial dan lingkungan
  • Aspek medik
Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut data obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga melalui wawancara perawatan disebut data subyektif.

Dari data yang dikumpulkan, perawatan langsung merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasio, 1983 dan INJF, 1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah : Penyebab (kausa), masalah utama (core problem) dan effect (akibat). Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. Umumnya masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang menyebabkan masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek / akibat dari masalah utama. Pohon masalah ini diharapkan dapat memudahkan perawat dalam menyusun diagnosa keperawatan

Diagnosa Dan Intervensi Keperawatan

1. Diagnosa 1 : Resiko mencederai diri sendiri dan atau orang lain/lingkungan berhubungan dengan perubahan persepsi sensori/halusinasi

Tujuan Umum :
  • Klien tidak mencederai diri sendiri dan atau orang lain / lingkungan.
Tujuan khusus :

1. Klien dapat hubungan saling percaya :

a. Bina hubungan saling percaya
  • Salam terapeutik
  • Perkenalan diri
  • Jelaskan tujuan interaksi
  • Ciptakan lingkungan yang tenang
  • Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik, waktu dan tempat berbicara).
b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.

c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.

2. Klien dapat mengenal halusinasinya

a. Lakukan kontak sering dan singkat. Rasional : untuk mengurangi kontak klien dengan halusinasinya.

b. Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang kesekitarnya seolah – olah ada teman bicara.

c. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya ;
  • Bila klien menjawab ada, lanjutkan ; apa yang dikatakan ?
  • Katakan bahwa perawat percaya klien mendengarnya.
  • Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien.
  • Katakan bahwa perawatan akan membantu klien.
d. Diskusikan dengan klien tentang ;
  • Situasi yang dapat menimbulkan / tidak menimbulkan halusinasi.
  • Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang sore, malam atau bila sendiri atau bila jengkel / sedih).
e. Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang) dan berkesempatan mengungkapkan perasaan.

3. Klien dapat mengontrol halusinasinya

a. Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang dilakukan bila terjadi halusinasi (tidur/marah/menyibukkan diri)

b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, bila bermanfaat beri pujian.

c. Diskusi cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi :
  • Katakan “saya tidak mau dengan kamu” (pada halusinasi).
  • Menemui orang lain (perawat / teman / anggota keluarga untuk bercakap – cakap . mengatakan halusinasinya.
  • Membuat jadwal kegiatan sehari – hari agar halusinasi tidak sempat muncul.
  • Meminta orang lain (perawat / teman anggota keluarga) menyapa bila tampak bicara sendiri.
d. Bantu klien memilih dan melatih cara memutus / mengontrol halusinasi secara bertahap.

e. Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan pujian bila berhasil.

f. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok (orientasi realisasi dan stimulasi persepsi).

4. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengotrol halusinasinya :

a. Anjurkan klien memberitahu keluarga bila mengalami halusinasi.

b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung / pada saat kunjungan rumah)
  • Gejala halusinasinya yang dialami klien
  • Cara yang dapat dilakukan klien dan ke-luarga untuk memutus halusinasi
  • Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah : Beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, berpergian bersama
  • Berikan informasi waktu follow up atau kapan perlu mandapat bantuan; halusinasi tak terkontrol dan resiko mencederai orang lain.
5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik :
  • Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat.
  • Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat merasakan manfaatnya.
  • Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat tentang efek dan efek samping obat yang dirasakan.
  • Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-sultasi.
  • Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5 (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu)
2. Diagnosa 2 : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses pikir (waham).

Tujuan Umum :
  • Klien dapat melakukan komunikasi verbal
Tujuan Khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya

a. Bina hubungan saling percaya dengan klien.

b. Jangan membantah dan mendukung waham klien.
  • Katakan perawat menerima : saya menerima keyakinan anda, disertai ekspresi menerima.
  • Katakan perawat tidak mendukung : sadar bagi saya untuk mempercayainya disertai ekspresi ragu dan empati.
  • Tidak membicarakan isi waham klien.
c. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung.
  • Gunakan keterbukaan dan kejujuran
  • Jangan tinggalkan klien sendirian
  • Klien diyakinkan berada di tempat aman, tidak sendirian.
2. Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang dimilki
  • Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realitas.
  • Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
  • Tanyakan apa yang bisa dilakukan (aktiviotas sehari – hari)
  • Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai waham tidak ada.
3. Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi :
  • Observasi kebutuhan klien sehari – hari.
  • Diskusi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah / di RS.
  • Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
  • Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien (buat jadwal aktivitas klien).
4. Klien dapat berhubungan dengan realitas :
  • Berbicara dengan klien dalam kontek realita (diri orang lain, tempat, waktu)
  • Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok: orientasi realitas
  • Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.
5. Klien dapat dukungan keluarga :
  • Gejala waham.
  • Cara merawatnya.
  • Lingkungan keluarga.
6. Klien dapat menggunakan obat dengan benar
  • Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping obat, akibat penghentian.
  • Diskusikan perasaan klien setelah minum obat
  • Berikan obat dengan prinsip 5 tepat
3. Doagnosa 3 : Difisit perawatan diri berhubungan dengan koping individu tidak efektif

Tujuan Umum :
  • Klien mampu merawat diri sehingga penampilan diri menjadi adekuat
Tujuan Khusus :

1. klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri
  • Dorong klien mengungkapkan perasaan tentang keadaan dan kebersihan dirinya.
  • Dengan ungkapan klien dengan penuh perhatian dan empati.
  • Beri pujian atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan tentang kebersihan dirinya.
  • Diskusi dengan klien tentang arti kebersihan diri
  • Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan diri.
2. Klien mendapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan dirinya.
  • Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga tentang kebutuhan perawatan diri klien
  • Diskusikan dengan keluarga
  • Motivasi keluarga dalam berperan aktif memenuhi kebutuhan perawatan diri klien.
  • Beri pujian atas tindakan positif yang telah dilakukan keluarga