Senin, 06 Juni 2011

PENYEBAB KEHAMILAN SUNGSANG

Walau terdengar cukup familiar, bagi ibu yang mengalami kondisi ini tetap saja terasa mengkhawatirkan. Ternyata, terdapat berbagai faktor penyebab terjadinya sungsang. Apa sajakah itu?
Jangan terlampau khawatir jika dokter mengatakan bahwa kondisi kehamilan Anda saat ini sungsang. Apa pasal? Sepanjang kandungan Anda belum memasuki bulan ke-9, keadaan tersebut masih terbilang normal. Demikian seperti diutarakan dr. Frizar Irmansyah, SpOG (K), dokter spesialis kebidanan dan kandungan, konsultan fertilitas endokrinologi reproduksi, Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta.
“Sungsang adalah kondisi letak bayi memanjang dengan kepala di bagian atas rahim sementara bokong bayi di bagian bawah,” katanya. Jika situasi ini terjadi pada saat kehamilan masih berusia di bawah 9 bulan maka masih dikategorikan sebagai sesuatu yang normal. Jadi jangan terburu panik.
Biasanya, pada kehamilan trimester kedua, posisi sungsang sudah dapat dideteksi. Salah satu indikasi awam adalah kandungan yang terasa penuh di bagian atas dengan gerakan janin terasa lebih banyak di bagian bawah. Namun, tentu saja untuk memastikannya Anda perlu memeriksakan kehamilan pada dokter. Lebih jauh, dr. Frizar berujar bahwa sungsang dapat terjadi pada ibu hamil manapun tanpa bisa dicegah. “Ini merupakan proses adaptasi bayi terhadap rahim,” tuturnya.
MULTIPARITAS
Selain dapat terjadi secara fisiologis atau normal, sungsang dapat juga disebabkan oleh penyebab lain, diantaranya adalah:
  • Kelainan dari rahim, sebut saja terdapat sekat pada rahim, bisa juga karena rahim bentuknya menyerupai angka 7
  • Ada miom dalam rahim yang mendesak
  • Adanya lilitan tali pusat sehingga bayi tidak bisa memutar
  • Placenta previa, yakni placenta yang menutupi jalan lahir
  • Kepala bayi yang terlampau besar (hidrosefalus)
  • Ukuran bayi lebih besar daripada panggul ibu
  • Kehamilan bayi kembar
  • Multiparitas, seperti kehamilan anak ke-2,3,4, dst.
‘’Kondisi sungsang jarang terjadi pada kehamilan pertama,’’ ungkapnya.

SUJUD
Jika tidak terdapat faktor risiko seperti yang disebutkan di atas, maka kondisi sungsang dianggap sebagai sesuatu yang normal. Artinya, diyakini dapat diupayakan untuk dilakukan pengoreksian.
Cara sederhana yang bisa Anda lakukan adalah dengan melakukan posisi sujud. “Pada kehamilan 7-8 bulan koreksi dilakukan dengan cara ibu berada dalam posisi sujud atau knee-chest position. Lakukan antara 5-10 menit sebanyak 2 kali sehari. Diharapkan dengan rutin melakukannya, bayi akan memutar ke posisi yang seharusnya,” terang dr. Frizar.
Hanya saja, ia mengingatkan bahwa posisi tersebut dapat membuat ibu merasa tidak nyaman atau sesak jika dilakukan terlalu lama. Sarannya, berhentilah dulu setiap Anda mulai merasa tidak nyaman. Jangan dipaksakan. Jika Anda sudah merasa lebih baik, sujud dapat dilakukan lagi.
Lantas, bagaimana jika setelah rutin melakukan sujud si mungil tetap berada dalam kondisi sungsang? Menurut dr. Frizar, dokter dapat melakukan tindakan koreksi dari luar dengan cara memutar janin hingga pada posisi yang seharusnya. Namun, untuk melakukan tindakan ini ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, seperti:
  • Tidak ada lilitan tali pusat pada leher bayi
  • Tidak ada  kondisi hidrosefalus
  • Tidak ada placenta previa
  • Tidak ada miom
  • Ukuran bayi tidak lebih besar daripada panggul ibu

JANGAN MEMAKSA
Setiap ibu dipastikan menginginkan persalinan normal, hanya saja jika sudah tiba saatnya si kecil lahir posisinya masih sungsang, walau  persalinan per vaginal bisa diusahakan tetap terdapat beberapa risiko, seperti:
  • Waktu sangat singkat. Pada persalinan normal (posisi kepala bayi ke luar lebih dulu) waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kepala hingga seluruh tubuhnya bisa hingga 2 jam. Sementara, pada persalinan sungsang (posisi bokong bayi ke luar lebih dulu) hingga keseluruhan badannya, waktu yang tersedia hanya 8 menit. Pasalnya, begitu bokongnya ke luar, tali pusat akan terjepit –tertekan dengan kepala—karena kepala sudah masuk panggul. “Nah, kapasitas oksigen yang dimiliki bayi hanya cukup untuk 8 menit. Lebih dari itu, ia akan meninggal,” tutur dr. Frizar.
  • Dikhawatirkan dapat menyebabkan perdarahan otak karena dalam waktu singkat terjadi dekompresi. Pada persalinan normal, kepala bayi akan beradaptasi mengikuti jalan lahir sedangkan pada persalinan sungsang kepala bayi tidak memiliki waktu untuk beradaptasi.
  • Jika bokong bayi ke luar lebih dulu, proses melahirkan benar-benar mengandalkan tenaga ibu sepenuhnya, dan bayi bisa terjepit di jalan lahir. Pada persalinan normal, jika dalam proses melahirkan Anda merasa kelelahan maka dokter dapat membantu dengan melakukan tindakan vakum atau bayi ditarik dengan forcep.
Dengan sejumlah risiko seperti yang telah dituturkan di atas, itulah mengapa banyak pasangan yang memilih jalan caesar. Bagaimana dengan Anda?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar