Tampilkan postingan dengan label Ke-Islaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ke-Islaman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

DOA DIHARI ULANG TAHUN KU

Ya Allah,
kau ciptakan kami dari tiada, menjadi ada...
Kemudian kau kembalikan kami kepadamu,...
Ya Allah,
Kehidupan kami bejalan dan berputar sesuai dengan kehendakmu
Ya Allah,
Hari ini telah sampai usia kami dalam kedewasaan jadikanlah kami menjadi khusuk dan tawaduk dalam menerimah hikmah dan berkahmu
bertambah usia dalam hitungan kami, kerkurang pula usia kami dalam hitunganmu..

Ya Allah,
Panjangkanlah usia kami agar kami dapat hidup dan menjadi bermanfaat bagi ummatmu yang lain
Panjangkanlah usia kami agar kami dapat lebih memandang hidup dengan penuh makna dalam kebesaranmu
Panjangkanlah usia kami agar kelak kami dapat membersarkan anak-anak kami untuk dapat tunduk dan berbakti kepadamu
Panjangkanlah usia kami agar kami dapat lebih bersyukur atas nikmat dan rezeki yang engaku anugerahkan kepada kami.
Ya Allah,
Jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa bersyukur terhadap rezeki dan anugrah yang engaku berikan
Ya Allah,
Terimakasih engkau telah mengangkat kami menjadi makhluk dengan derajat yang tinggi
Terimakasih engkau telah memberikan cahaya keimanan kepada kami agar kami dapat mengenalmu,
Terimakasih ya Tuhan kami...

Sabtu, 11 Juni 2011

Daftar Nama Bayi Islami

ABAN : Perbuatan nyata
ABBAS : Singa
ABDULLAH : Hamba Allah
ABDUL AZIZ : Hamba Allah Yang Maha Perkasa
ABDUL BASHIR : Hamba Allah Yang Maha Melihat
ABDUL BASITH : Hamba Allah Yang Maha Melapangkan Rezeki
ABDUL FATTAH : Hamba Allah Yang Maha Pembuka
ABDUL GHAFFAR : Hamba Allah Yang Maha Pengampun
ABDUL GHAFUR : Hamba Allah Yang Maha Memberi Pengampunan
ABDUL GHANIYY : Hamba Allah Yang Maha Kaya
ABDUL HAKAM : Hamba Allah Yang Maha Penghukum
ABDUL HAKIM : Hamba Allah Yang Maha Bijaksana
ABDUL HALIM : Hamba Allah Yang Maha Penyantun
ABDUL HAMID : Hamba Allah Yang Maha Terpuji
ABDULHAQQ : Hamba Allah Yang Maha Benar
ABDUL JABBAR : Hamba Allah Yang Maha Agung
ABDUL JALIL : Hamba Allah Yang Maha Sempurna
ABDUL KARIM : Hamba Allah Yang Maha Mulia
ABDUL KHALIQ : Hamba Allah Yang Maha Pencipta
ABDUL LATIF : Hamba Allah Yang Maha Lembut
ABDUL MAJID : Hamba Allah Yang Maha Mulia
ABDUL MALIK : Hamba Allah Yang Maha Merajai
ABDUL MUGNI : Hamba Allah Yang Memberi Kekayaan
ABDUL MUHJI : Hamba Allah Yang Menghidupkan
ABDUL MUIZ : Hamba Allah Yang Memuliakan
ABDUL MUJIB : Hamba Allah Yang Maha Mengabulkan
ABDUL QADIR : Hamba Allah Yang Maha Kuasa
ABDUL QAHHAR : Hamba Allah Yang Maha Menentukan
ABDUL RAFI : Hamba Allah Yang Meninggikan Derajat
ABDUL RAHIM : Hamba Allah Yang Maha Penyayang
ABDUL RAHMAN : Hamba Allah Yang Maha Pemurah
ABDUL RASYID : Hamba Allah Yang Maha Pandai
ABDUL RAUF : Hamba Allah Yang Maha Belas Kasih
ABDUL SHAMAD : Hamba Allah Yang Menjadi Tempat Meminta
ABDUL WAHID : Hamba Allaah Yang Maha Esa
ABID : Orang Yang Beribadah
ABIDIN : Orang Yang Beragama
ABU : Bapak / Ayah
ADAM : Tanah; kaum laki-laki
ADIB : Penulis, budayawan
ABIDAH : Beradab
ADNAN : Kesenangan; surga; firdaus
AFDHAL : Lebih Utama
AFLAH : Lebih Berhasil
AHMAD : Terpuji
AHNAF : Lurus hatinya; lebih suci
AIMAN : Kanan
AKHDAN : Sahabat
AKMAL : Lebih sempurna
AKRAM : Lebih mulia
ALAUDIN : Kemuliaan Agama
AL BAIHAQI : Iman, perawi hadist
ALFA : Seribu
ALIM : Berilmu, Mengetahui
ALIMAN : Berilmu
AMANULLAH : Keamanan dari Allah
AMAR : Perintah
AMIN : Pemegang Amanat, dapat dipercaya
AMIR : Penguasa; panjang umur
AMIRUDIN : Pemeluk agama sepanjang umur
AMAH : Rakyat
AMANAH : Perintah; titipan; pesan
AMINAH : Dapat dipercaya
AMIRAH : Wanita mulia
AMJAD : Lebih mulia
AMRU : Kehidupan
AMRULLAH : Perintah Allah
ANJAB : Lebih utama dan bernilai
ANTA : Anda; engkau; kamu
ANWAR : Lebih bersinar
AQABAH : Taat larangan
AQIDAH : Golongan utama
ARIF : Bijaksana
ARHAB : Memanjakan
ARIFUDDIN : Kebijaksanaan Agama
ARIQAH : Baik budi, Mulia
ARKAN : Kemuliaan, anggota badan
ARKHAB : Yang lapang dada
ASAD : Singa
ASFAR : Kuning
ASJAD : Emas, mutiara
ASLIYAH : Yang sejati
ASLAM : Lebih selamat
ASWAD : Hitam
ASYAM : Pemimpin yang mulia
ASYRAF : Lebih mulia
ATHIYYAH : Pemberian
ATHA : Rejeki, kebajikan
ATHALLAH : Karunia Allah
ATHAYA : Pemberian Hadiah
AUF : Singa
AUFA : Lebih cepat
AUS : Srigala
AZHAR : Lebih cerah
AZMI : Berhati teguh

Minggu, 27 Februari 2011

Perihal Zina

1. PENGERTIAN ZINA

Dalam al-Mu’jamul Wasith hal 403 disebutkan, “Zina ialah seseorang bercampur dengan seorang wanita tanpa melalui akad yang sesuai dengan syar’i.”

2. HUKUM ZINA

Zina adalah haram hukumnya, dan ia termasuk dosa besar yang paling besar.

Allah swt berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa’: 32)

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “(Ya Rasulullah), dosa apa yang paling besar?” Jawab Beliau, “Yaitu engkau mengangkat tuhan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Lalu saya bertanya (lagi), “Kemudian apa lagi?” Jawab Beliau, “Engkau membunuh anakmu karena khawatir ia makan denganmu.” Kemudian saya bertanya (lagi). “Lalu apa lagi?” Jawab Beliau, “Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 114 No. 6811, Muslim I: 90 No. 86, ‘Aunul Ma’bud VI: 422 No. 2293 No. Tirmidzi V: 17 No. 3232).

Allah swt berfirman:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Furqaan: 68-70).


Dalam hadist Sumarah bin Jundab yang panjang tentang mimpi Nabi saw, Beliau saw bersabda:

“Kemudian kami berjalan dan sampai kepada suatu bangunan serupa tungku api dan di situ kedengaran suara hiruk-pikuk. Lalu kami tengok ke dalam, ternyata di situ ada beberapa laki-laki dan perempuan yang telanjang bulat. Dari bawah mereka datang kobaran api dan apabila kena nyala api itu, mereka memekik. Aku bertanya, “Siapakah orang itu” Jawabnya, “Adapun sejumlah laki-laki dan perempuan yang telanjang bulat yang berada di dalam bangunan serupa tungku api itu adalah para pezina laki-laki dan perempuan.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3462 dan Fathul Bari XII: 438 no: 7047).

Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang hamba berzina tatkala ia sebagai seorang mu’min; dan tidaklah ia mencuri, manakala tatkala ia mencuri sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia meneguk arak ketikaia meneguknya sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia membunuh (orang tak berdosa), manakala ia membunuh sebagai seorang beriman.”

Dalam lanjutan riwayat di atas disebutkan:

Ikrimah berkata, “Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Bagaimana cara tercabutnya iman darinya?’ Jawab Ibnu Abbas: ‘Begini –ia mencengkeram tangan kanan pada tangan kirinya dan sebaliknya, kemudian ia melepas lagi–, lalu manakala dia bertaubat, maka iman kembali (lagi) kepadanya begini –ia mencengkeramkan tangan kanan pada tangan kirinya (lagi) dan sebaliknya-.’” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7708, Fathul Bari XII: 114 no: 6809 dan Nasa’i VIII: 63).

3. KLASIFIKASI ORANG BERZINA


Orang yang berzina adakalanya bikr atau ghairu muhshan (Perawan atau lajang (untuk perempuan) dan perjaka atau bujang (untuk laki-laki)), atau adakalanya muhshan (orang yang sudah beristeri atau bersuami).

Jika yang berzina adalah orang merdeka, muhshan, mukallaf dan tanpa paksaan dari siapa pun, maka hukumannya adalah harus dirajam hingga mati.

Muhshan ialah orang yang pernah melakukan jima’ melalui akad nikah yang shahih. Sedangkan mukallaf ialah orang yang sudah mencapai usia akil baligh. Oleh sebab itu, anak dan orang gila tidak usah dijatuhi hukuman. Berdasarkan hadist “RUFI’AL QALAM ’AN TSALATSATIN (=diangkat pena dari tiga golongan)”.

Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari ra bahwa ada seorang laki-laki dari daerah Aslam datang kepada Nabi saw lalu mengatakan kepada Beliau bahwa dirinya benar-benar telah berzina, lantas ia mepersaksikan atas dirinya (dengan mengucapkan) empat kali sumpah. Maka kemudian Rasulullah saw menyuruh (para sahabat agar mempersiapkannya untuk dirajam), lalu setelah siap, dirajam. Dan ia adalah orang yang sudah pernah nikah. (Shahih: Shahih Abu Daud no: 3725, Tirmidzi II: 441 no: 1454 dan A’unul Ma’bud XII: 112 no: 4407).

Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Umar bin Khattab ra pernah berkhutbah di hadapan rakyatnya, yaitu dia berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad saw dengan cara yang haq dan Dia telah menurunkan kepadanya kitab al-Qur’an. Di antara ayat Qur’an yang diturunkan Allah ialah ayat rajam, kami telah membacanya, merenungkannya dan menghafalkannya. Rasulullah saw pernah merajam dan kami pun sepeninggal Beliau merajam (juga). Saya khawatir jika zaman yang dilalui orang-orang sudah berjalan lama, ada seseorang mengatakan, “Wallahi, kami tidak menjumpai ayat rajam dalam Kitabullah.” Sehingga mereka tersesat disebabkan meninggalkan kewajiban yang diturunkan Allah itu, padahal ayat rajam termaktub dalam Kitabullah yang mesti dikenakan kepada orang yang berzina yang sudah pernah menikah, baik laki-laki maupun perempuan, jika bukti sudah jelas, atau hamil atau ada pengakuan.” (Mutafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 144 no: 6830, Muslim III: 1317 no 1691, ‘Aunul Ma’bud XII: 97 no: 4395, Tirmidzi II: 442 no: 1456).

4. HUKUMAN BUDAK YANG BERZINA


Apabila yang berzina adalah budak laki-laki ataupun perempuan, maka tidak perlu dirajam. Tetapi cukup didera sebanyak lima puluh kali deraan, sebagaimana yang ditegaskan firman Allah swt:

“Dan apabila mereka Telah menjaga diri dengan kimpoi, Kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.” (QS An-Nisaa: 25)

Dari Abdullah bin Ayyasy al-Makhzumi, ia berkata, “Saya pernah diperintah Umar bin Khattab ra (melaksanakan hukum cambuk) pada sejumlah budak perempuan karena berzina, lima puluh kali, lima puluh kali cambukan.” (Hasan: Irwa-ul Ghalil no: 2345, Muwaththa‘ Malik hal 594 no: 1058 dan Baihaqi VIII: 242)

5. ORANG YANG DIPAKSA BERZINA TIDAK BOLEH DIDERA

Dari Abu Abdurahhman as-Silmi ia berkata: “Umar bin Khatab ra pernah dibawakan seorang perempuan yang pernah ditimpa haus dahaga luar biasa, lalu ia melewati seorang penggembala, lantas ia minta air minum kepadanya. Sang penggembala enggan memberikan air minum, kecuali ia menyerahkan kehormatannya kepada seorang penggembala. Kemudian terpaksa ia melaksanakannya. Maka (Umar) pun bermusyawarah dengan para sahabat untuk merajam perempuan itu, kemudian Ali ra menyatakan, ‘Ini dalam kondisi darurat, maka saya berpendapat hendaklah engkau melepaskannya.’ Kemudian Umar melaksanakannya.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 2313 dan Baihaqi VIII: 236).

6. HUKUMAN BIKR (PERAWAN ATAU PERJAKA) YANG BERZINA

Allah swt berfirman:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS An-Nuur: 2).

Dari Zaid bin Khalid-al-Juhanni ra, ia berkata, “Saya pernah mendengar Nabi saw mnyuruh orang yang berzina yang belum pernah kimpoi didera seratus kali dan diasingkan selama setahun.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 2347 dan Fathul Bari XII: 156 no: 6831)

Dari Ubadah bin Shamit ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ambillah dariku, ambillah dariku; sungguh Allah telah menjadikan jalan (keluar) untuk mereka; gadis (berzina) dengan jejaka dicambuk seratus kali cambukan dan diasingkan setahun, dan duda berzina dengan janda didera seratus kali didera dan dirajam.” (Shahih: Mukthashar Muslim no: 1036, Muslim III: 1316 no: 1690, ’Aunul Ma’bud XII: 93 no: 4392, Tirmidzi II: 445 no: 1461 dan Ibnu Majah II: 852 no: 2550).

7. DENGAN APA HUKUM HAD SAH DILAKSANAKAN?
Hukum had dianggap sah dilaksanakan dengan dua hal: pertama, pengakuan dan kedua, disaksikan oleh para saksi. (Fiqhus Sunnah III: 352).

Adapun pengakuan, didasarkan pada waktu Rasulullah saw yang pernah merajam Ma’iz dan perempuan al-Ghamidiyah yang keduanya mengaku telah berzina:

Dari Ibnu Abbas ra. berkata, “Tatkala Ma’iz bin Malik dibawa kepada Nabi saw, maka Beliau bertanya kepadanya, “Barangkali engkau hanya mencium(nya) atau meraba(nya) dengan tanganmu atau sekedar melihat(nya)?” Jawabnya, “Tidak, ya Rasulullah.” Tanya Beliau (lagi), “Apakah engkau telah melakukan sesuatu yang tidak layak diutarakan dengan terus terang?” Maka ketika itu, Beliau menyuruh merajamnya.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 3724, Fathul Bari XII: 135 no: 6824 dan ‘Aunul Ma’bud XII: 109 no: 4404)

Dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya ra bahwa seorang perempuan dari daerah Ghamid dari suku al-Azd datang kepada Nabi saw lalu mengatakan, “Ya Rasulullah, sucikanlah diriku!” Maka sabda Beliau, “Celaka kamu. Kembalilah, lalu beristighfarlah dan bertaubatlah kepada-Nya!” Kemudian ia berkata (lagi), “Saya melihat engkau hendak menolakku, sebagaimana engkau telah menolak Ma’iz bin Malik.” Beliau bertanya kepadanya, “Apa itu?” Jawabnya, “Sesungguhnya saya telah hamil karena berzina.” Tanya Beliau. “Kamu?” Jawabnya, “Ya.” Maka sabda Beliau kepadanya, “(Pulanglah) hingga engkau melahirkan (bayi) yang di perutmu.” Kemudian ada seseorang sahabat dari kawan Anshar yang mengurusnya hingga ia melahirkan bayinya, lalu ia data kepda Nabi saw dan menginformasikan kepada Beliau bahwa perempuan al-Ghamidiyah itu telah melahirkan. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, kami tidak akan segera merajamnya dan kami tidak akan biarkan anaknya yang masih kecil, tidak ada yang menyusuinya.” Kemudian ada seorang sahabat Anshar bangun lantas berkata, “Ya Nabiyullah, saya akan menanggung penyusuannya.” Kemudian Beliau pun merajamnya. (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1039, Muslim III: 1321 no: 1695).

Jika yang bersangkutan ternyata meralat pengakuannya, maka tidak boleh dijatuhi hukuman. Hal ini merujuk pada hadist Nu’aim bin Huzzal:

Adalah Ma’iz bin Balik seorang anak yatim yang dulu berada di bawah asuhan ayahku (yaitu Huzzal), kemudian ia pernah berzina dengan seorang budak perempuan dari suatu kampung … sampai pada perkataannya “Kemudian Nabi Saw menyuruh agar Ma’iz dirajam. Lalu dikeluarkanlah Ma'iz ke Padang Pasir. Tatkala dirajam, ia merasakan sakitnya lemparan batu yang menimpa dirinya, kemudian bersedih hati, lalu ia melarikan diri dengan cepat, lantas bertemu dengan Abdullah bin Unais. Para sahabatnya tidak mampu (menahannya). Kemudian Abdullah bin Unais mencabut tulang betis unta, lalu dilemparkan kepadanya hingga ia meninggal dunia. Kemudian Abdullah bin Unais datang menemui Nabi saw lalu melaporkan kasus tersebut kepadanya, maka Rasulullah berkata kepadanya, “Mengapa kamu tidak biarkan ia, barangkali ia bertaubat lalu Allah menerima taubatnya.” (Shahih: Shahih Abu Daud no. 3716, ‘Aunul Ma’bud XII: 99 no: 4396)

8. HUKUM ORANG YANG MENGAKU PERNAH BERZINA DENGAN SI FULANAH

Apabila seseorang mengaku bahwa dirinya telah berzina dengan fulanah, maka laki-laki yang mengaku tersebut harus dijatuhi hukuman. Kemudian jika si perempuan, rekan kencannya, mengaku juga, maka ia harus dijatuhi hukuman juga. Jika ternyata si perempuan tidak mau mengakui, maka ia (si perempuan) tidak boleh dijatuhi hukuman.

Dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid ra bahwa ada dua orang laki-laki yang saling bermusuhan datang kepada nabi saw lalu seorang di antara keduanya menyatakan, “Ya Rasulullah, putuskanlah di antara kami dengan Kitabullah!” Yang satunya lagi --yang paling mengerti di antara mereka berdua-- berkata, “Betul, ya Rasulullah, putuskanlah di antara kami dengan Kitabullah, dan izinkanlah saya untuk mengutarakan sesuatu kepadamu.” Jawab Beliau, "Silakan utarakan!" Ia melanjutkan pengutaraannya, “Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pekerja yang diberi upah oleh orang ini, lalu ia pun berzina dengan isterinya. Lalu orang-orang menjelaskan kepadaku bahwa anaku harus dirajam. Oleh sebab itu, saya telah menebusnya dengan memberikan seratus ekor kambing dan seorang budak wanitaku. Kemudian saya pernah bertanya kepada orang-orang alim, lalu mereka menjelaskan kepadaku bahwa anakku harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun lamanya. Sedangkan rajam hanya ditimpahkan kepada isteri ini.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamannya, saya akan benar-benar memutuskan di antara kalian berdua dengan Kitabullah; adapun kambing dan budak perempuanmu itu maka dikembalikan (lagi) kepadamu.” Beliau pun mendera anaknya seratus kali dan mengasingkannya selama setahun. Dan Beliau juga menyuruh Unais al-Aslam agar menemui isteri orang pertama itu; jika ia mengaku telah berzina dengananak itu, maka harus dirajam. Ternyata ia mengaku, lalu dirajam oleh Beliau. (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 136 no: 6827-6828, Muslim III: 1324 no: 1697-1698, ‘Aunul Ma’bud XII: 128 no: 4421, Tirmidzi II: 443 no: 145, Ibnu Majah II: 852 no: 2549 dan Nasa’i VIII: 240).

9. HUKUM HAD HARUS DILAKSANAKAN BILA SAKSINYA KUAT

Allah swt berfirman:
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur: 4)

Apabila ada empat laki-laki muslim yang merdeka lagi adil menyaksikan dzakar (penis) si fulan masuk ke dalam farji (vagina) si fulanah seperti pengoles celak mata masuk ke dalam botol tempat celak, dan seperti timba masuk ke dalam sumur, maka kedua-duanya harus dijatuhi hukuman.

Manakalah tiga saja yang mengaku menyaksikan, sedang yang keempat justru mengundurkan diri dari kesaksian mereka, maka yang tiga orang itu harus didera dengan dera tuduhan sebagimana yang telah dipaparkan ayat empat An-Nuur itu, dan berdasarkan riwayat berikut:

Dari Qasamah bin Zuhair, ia bercerita: Tatkala antara Abu Bakrah dengan al-Mughirah ada permasalahan tuduhan zina yang dilaporkan kepada Umar ra maka kemudian Umar minta didatangkan saksi-saksinya, lalu Abu Bakrah, Syibl bin Ma’bad, dan Abu Abdillah Nafi’ memberikan kesaksiannya. Maka Umar ra pada waktu mereka bertiga usai memberikan kesaksiannya, berkata, "Permasalah Abu Bakrah ini membuat Umar berada dalam posisi yang sulit." Tatkala Ziyad datang, dia berkata, "(Hai Ziyad), jika engkau berani memberikan kesaksian, maka insya Allah tuduhan zina itu benar." Maka kata Ziyad, "Adapun perbuatan zina, maka aku tidak menyaksikan dia berzina. Namun aku melihat sesuatu yang buruk." Makakata Umar, “Allahu Akbar, hukumlah mereka.” Kemudian sejumlah sahabat mendera mereka bertiga. Kemudian Abu Bakrah seusai dicambuk oleh Umar menyatakan, “(Hai Umar), saya bersaksi bahwa sesungguhnya dia (al-Mughirah) berzina.” Kemudian, segera Umar ra hendak menderanya lagi, namun dicegah oleh Ali ra seraya berkata kepada Umar, “Jika engkau menderanya lagi, maka rajamlah rekanmu itu.” Maka Umar pun membatalkan niatnya dan tidak menderanya lagi.” (Sanadnya Shahih: Irwa-ul Ghalil VIII: 29 dan Baihaqi VIII: 334).

10. HUKUM ORANG BERZINA DENGAN MAHRAMNYA

Barangsiapa yang berzina dengan mahramnya, maka hukumnya adalah dibunuh, baik ia sudah pernah nikah ataupun belum. Dan apabila ia telah mengawini mahramnya, maka hukumannya ia harus dibunuh dan hartanya harus diserahkan kepada pemerintah.

Dari al-Bara’ ra, ia bertutur, “Saya pernah berjumpa dengan pamanku yang sedang membawa pedang, lalu saya tanya, ‘(Wahai Pamanda), Paman hendak kemana?’ jawabnya, ‘Saya diutus oleh Rasulullah saw menemui seorang laki-laki yang telah mengawini isteri bapaknya sesudah ia meninggal dunia, agar saya menebas batang lehernya dan menyita harta bendanya.’” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 2351, Shahih Ibnu Majah no: 2111, 'Aunul Ma'bud XII: 147 no: 4433, Nasa’i VI: 110, namun dalam Sunan Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah tanpa lafazh "menyita harta bendanya." Tirmidzi II: 407 no: 1373 dan Ibnu Majah II: 869 no: 2607).

11. HUKUM ORANG YANG MENYETUBUHI BINATANG

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menyetubui binatang ternak, maka hendaklah kamu bunuh dia dan bunuh (pula) binantang itu.” (Hasan Shahih: Shahih Tirmidzi no: 1176, Tirmidzi III: 1479, 'Aunul Ma'bud XII: 157 no: 4440, Ibnu Majah II: 856 no: 2564)

12. HUKUMAN ORANG YANG MELAKUKAN LIWATH, HOMOSEKSUAL

Apabila seorang laki-laki memasukkan penisnya ke dalam dubur laki-laki yang lain, maka hukumannya adalah dibunuh, baik keduanya sudah pernah menikah taupun belum.

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum (Nabi) Luth, maka bunuhlah fa’il (pelakunya) dan maf’ulbih (korbannya).” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2075, Tirmidzi III: 8 no: 1481, ‘Aunul Ma’bud XII: 153 no: 4438, Ibnu Majah II: 856 no: 2561).

Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm 820 - 834 dan http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3586580

HUKUM MENGUMPAT

Soalan 33 : Adakah mengumpat termasuk dosa besar kerana Allah menyatakannya sebagai sesuatu yang berat sedangkan tiada hukuman yang dikhususkan untuknya tidak sebagaimana dosa besar yang lain
Maksud firman Allah dalam ayat 12 surah al-Hujurat yang bermaksud : ……….Dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di kalangan kamu orang yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati sedangkan mereka tidak menyukainya………
Bertanyalah nabi s.a.w kepada mereka : Tahukah kamu apakah yang dimaksudkan dengan Ghibah itu?. Lalu mereka menjawab : Allah dan rasulNya yang lebih tahu. Maka sabda nabi s.a.w : iaitu kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang dia tidak menyukainya. Kemudian nabi ditanya : bagaimana jika pada saudaraku itu terdapat apa yang saya katakan tadi?. Rasulullah s.a.w menjawab : Jika padanya terdapat apa yang kamu bicarakan itu maka bererti kamu mengumpatnya dan jika tidak seperti apa yang kamu bicarakan itu maka bererti kamu telah menuduhnya ( Riwayat imam Muslim, Abu Daud, Tarmizi dan Nasai’e)
Daripada Jabir berkata : Kami pernah berada disamping nabi kemudian menghembuslah angin berbau busuk lalu bertanyalah nabi : Tahukah kamu apakah bau ini? Inilah bau orang-orang yang mengumpat orang mukmin { Riwayat imam Ahmad dan perawinya thiqah)

Apabila kita merenungi kepada maksud ayat al-Quran dan potongan hadis nabi maka dapatlah disimpulkan bahawa mengumpat merupakan salah suatu dosa besar dan ia merupakan perbuatan yang tercela seolah-olah pelakunya memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati. Di dalam Islam ada dosa besar yang mempunyai hukum khusus untuknya seperti murtad, zina, bunuh dan ada pula dosa besar yang lain tetapi tidak ditetapkan hukumannya seperti riba, rasuah.
Namun begitu bukan bermakna sesuatu perbuatan yang tidak mempunyai hukuman khusus bukan termasuk dalam dosa besar. Ini bersesuaian dengan Islam itu sendiri yang merupakan agama fitrah dan juga agama nasihat bukan setakat agama yang menghukum semata-mata.Ini kerana ada sesuatu perbuatan sudah memadai dengan nasihat secara lembut dan ada yang terpaksa ditetapkan hukuman secara khusus. Ini juga sebagai memberi kesenangan dan kemudahan kepada manusia bukan untuk menambahkan bebanan.
Rujukan
1. al-Quran al-Karim
2. Syeikh Yusuf Qardhawi, al-Halal wa al-Haram fi al-Islam

Jumat, 28 Januari 2011

MENGENAL ALLAH SUBHANAHUWA TAALA

Satu daripada Hadis Nabi Muhammad SAW. yang masyhur ialah;
"Siapa yang mengenal dirinya,  mengenal ia akan TuhanNya"
Ini bererti dengan mematuhi dan memikirkan tentang dirinya dan sifat-sifatnya,  manusia itu boleh sampai kepada mengenal Allah. Tetapi oleh kerana banyak juga orang yang memikirkan tentang dirinya tetapi tidak dapat mengenal Tuhan,  maka tentulah ada cara-caranya yang khusus bagi mengenal ini.
Sebenarnya ada dua cara untuk mencapai pengetahuan atau pegenalan ini.  Satu daripada cara itu sangat sulit dan sukar difaham oleh untuk orang-orang biasa,  maka cara yang ini tidak usahlah kita terangkan di sini.  Yang satu cara lagi adalah seperti berikut:  apabila seseorang memikirkan dirinya,  dia tahu bahawa ada satu katika apabila ia tidak ada wujud,  seperti tersebut dalam Al-Quran:  "Tidakkah terjadi kepada manusia itu iaitu ada satu ketika apabila ia tidak ada apa-apa?" Selanjutnyaia juga tahu bahawa ia dijadikan diri setitik air yang tidak ada akal,  pendengar,  penglihatan,  kepala,  tangan,  kaki dan sebagainya dari sini,  teranglah bahawa walaubagaimanapun seseorang itu mencapai taraf kesempurnaan,  tidaklah dapat ia membuat dirinya sendiri atau pun membuat sehelai rambut.

Tambahan pula jika ia setitik air,  alangkah lemahnya ia?  Demikianlah seperti yang kita lihat di bab pertama dulu,  didapatinya dalam dirinya kekuasaan,  kebijaksanaan dan cinta Allah terbayang dalam bentuk yang kecil.  Jika semua pendita dalam dunia ini berkumpul dan mereka tidak mati,  nescaya mereka tidak dapat mengubah dan membaiki bentuk pembinaan walau satu bahagian pun dari badannya itu.
Misalnya,  dalam penggunaan gigi hadapan dan gigi sisi untuk menghancurkan makanan,  pembinaan lidah,  gelunjur air liur,  tengkuk,  kerongkong,  kita dapatinya penciptaan itu tidak dapat diperbaiki lagi.  Begitu juga,  fikirkan pula tangan dan jari kita.  Jari ada lima dan tidak pula sama panjang,  empat daripada jari itu mempunyai tiga persendian,  dan ibu jari hanya ada dua persendian,  dan lihat pula bagaimana ianya boleh digunakan untuk memegang,  mencincang,  memukul dan sebagainya.    Jelas sekali manusia tidak akan dapat berbuat demikian,  betapa pula hendak menambah atau mengurangkan bilangan jari itu dan susunannya mengikut cara dan bentuk yang lain.
Lihat pula makanan,  tempat tinggal kita dan sebagainya.  Semuanya cukup dikurniakan oleh Allah yang maha kaya.  Tahulah kita bahawa rahmat atau Kasih Sayang Allah itu sama dengan Kekuasaan dan KebijaksanaaNya,  seperti firman Allah Subhanahuwa Taala.
"RahmatKu itu lebih besar dari kemurkaanKu"
Dan sabda Nabi SAW.,
"Allah itu sayang kepada hamba-hambanya lebih dari sayang ibu kepada anaknya"
Demikianlah,  dari makhluk yang dijadikanNya,   manusia dapat tahu tentang wujudnya Allah;  dari keajaiban badannya,  ia dapat tahu tentang Kekuasaan dan Kebijaksanaanya Allah;  dan dari Pengurniaan rezeki Tuhan yang tidak terbatas itu,  nampaklah Cinta Allah kepada hambaNya.  Dengan cara ini,  mengenal diri sendiri itu menjadi anak kunci kepada pintu untuk mengenal Allah Subhanawa Taala.
Sifat-sifat manusia itu adalah bayangan Sifat-sifat Allah.  Begitu juga cara wujudnya ruh manusia itu memberi kita sedikit pandangan tentang cara wujudnya Allah,  iaitu Allah dan ruh itu tidak kelihatan,  tidak boleh dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan,  tidak tertakluk kepada ruang dan waktu,  diluar sempadan kuantiti (bilangan) dan kualiti (kaifiat),  dan tidak boleh diperikan dengan bentuk,  warna atau saiz.  Ada orang merasa payah hendak membentuk satu konsep berkenaan hakikat-hakikat ini kerana ianya tidak termasuk dalam bidang kualiti dan kuantiti,  dan sebagainya,  tetapi cuba perhatikan betapa susah dan payahnya memberi konsep tentang perasaan kita sehari-hari seperti marah,  suka,  cinta dan sebagainya.  Semua itu adalah konsep fikiran atau tanggapan khayalan,  dan tidak dapat dikenali oleh deria.  kualiti,  kuantiti dan sebagainya dan itu adalah konsep Deria(tanggapan pancaindera).  Sebagaimana telinga kita tidak dapat megenal warna,  dan mata kita tidak dapat mengenal bunyi,  maka begitu jugalah mengenal Ruh dan Allah itu bukanlah dengan derianya.
Allah itu adalah Pemerintah alam semesta raya ini.  Dia tidak tertakluk kepada ruang dan waktu,  kuantiti dan kualiti,  dan menguasai segala makhluknya.  Begitu juga ruh itu memerintah badan dan anggotanya.  Ia tidak boleh dilihat,  tidak boleh dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan tidak tertakluk kepada tempat tertentu.  Kerana bagaimana pula sesuatu yang tidak boleh dibagi-bagikan itu diletak kedalam sesuatu yang boleh dibagi-bagikan atau dipecah-pecahkan?  Dari penerangan yang kita baca diatas itu,  dapatilah kita lihat bagaimana benarnya sabda Nabi SAW.:  "Allah jadikan manusia menurut rupanya".
Setelah kita mengenal Zat dan Sifat Allah hasil dari pemerhatian dan tafakur kita tentah zat dan sifat Ruh,  maka sampai pulalah pengenalan kita kepada cara-cara kerja dan pemerintahan Allah Taala dan bagaimana ia muwakilkan Kuasa-Kuasanya kepada malaikat-malaikat,  dan lain-lain, dengan cara memerhati dan bertafakur tentang bagaimana diri kita memerintah alam kecil kita sendiri.
Kita ambil sati misalan:  Katakanlah seorang manusia hendak menulis nama Allah.  Mula-mulanya kehendak atau keinginan itu terkandung dalam hatinya.  Kemudian dibawa ke otak oleh tenaga keruhanian.  Maka bentuk perkataan "Allah" itu terdiri dalam bahagian khayalan atau fikiran otak itu.  Selepas itu ia mengembara melalui saluran urat saraf,  lalu menggerakkan jari dan jari itu mengerakkan pena.  Maka tertulislah nama "Allah" atas kertas,  serupa seperti yang ada didalam otak penulis itu.
Begitu juga apabila Allah Subahanahuwa Taala hendak menjadikan sesuatu perkara,  Ia mula-mulanya terzhohir dalam peringkat keruhanian yang disebut didalam Quran sebagai "Al-Arash".  Dari situ ia turun dengan urusan Keruhanian ke peringkat yang di bawahnya yang digelar "Al-Kursi".  Kemudian bentuknya terzhohir dalam "Al-Luh Al-Mahfuz".  Dari situ dengan perantaraaan tenaga-tenaga yang digelar "Malaikat" terzhohirlah perkara itu dan kelihatanlah di atas bumi ini dalam bentuk tumbuh-tumbuhan,  pokok-pokok dan binatang;  yang mewakilkan atau menggambarkan Iradat dan Ilmu Allah.  Sebagaimana juga huruf-huruf yang tertulis,  yang menggambarkan keinginan dan kemahuan yang terbit dan terkandung dalam hati;   dan bentuk itu dalam dalam otak penulis tadi.
Tidak ada orang yang tahu Hal Raja melainkan Raja itu sendiri.  Allah telah jadikan kita Raja dalam bentuk yang kecil yang memerintah kerajaan yang kecil.  Dan ini adalah satu salinan kecil Diri(Zat)Nya dan KerajaanNya.  Dalam kerajaan kecil pada manusia itu, Arash itu ialah Ruhnya;  ketua segala Malaikat itu ialah hatinya;  Kursi itu otaknya;  Luh Mahfuz itu ruang khazanah khayalan atau fikirannya.  Ruh itu tidak bertempat dan tidak boleh dibahagikan dan ia memerintah badanya;  sebagaimana Allah memerintah Alam Semester Raya ini.  Pendeknya,  tiap-tiap orang manusia itu diamanahkan dengan satu kerajaan kecil dan diperintahkan supaya jangan cuai dan lalai mentadbir kerajaan itu.
Berkenaan dengan mengenal ciptaan Allah Subhanahuwa Taala,  ada banyak darjah pengetahuan.  Ahli Ilmu Alam yang biasa adalah ibarat semut yang merangkak atas sekeping kertas dan memerhatikan huruf-huruf hitam terbentang di atas kertas itu dan merujukkan sebab kepada pena atau qalam itu sahaja.
Ahli Ilmu Falak adalah ibarat semut yang luas sedikit pandangannya dan nampak jari-jari tangan yang menggeakkan pena itu,  iaitu ia tahu bahawa unsur-unsur  itu adalah kuasa bintang-bintang,  tetapi dia tidak tahu bahawa bintang itu adalah di bawah kuasa Malaikat.
Oleh kerana berbeza-bezanya darjah pandangan manusia itu,  maka tentulah timbul pertelingkahan dalam mengesan natijah atau kesan(akibat) kepada sebab.  Mereka yang tidak memandang lebih jauh dari sempadan alam nyata ini adalah ibarat orang yang mengganggap hamba abdi yang paling rendah itu sebagai raja.  Undang-undang alam nyata itu (Fenomena) itu mestilah tetap. Jika tidak,  tidak adalah sains.  Walaubagaimanapun,  adalah salah besar menganggap hamba itu tuannya.
Selagi ada perebezaan ini,  segala itulah pertelingkahan akan berterusan.  Ini adalah ibarat orang buta yang hendak mengenal gajah.  Seseorang memegang kaki gajah itu lalu dikatakannya gajah itu seperti tiang.  Seorang lain memegang gadingnya lalu katanya gajah itu seperti kayu bulat yang keras.  Seorang lagi memegang telinganya lalu katanya gajah itu macam kipas.  Tiap-tiap seorang mengganggap bahagian-bahagian itu sebagai kaseluruhan.  Dengan itu,  ahli ilmu alam dan ahli ilmu Falak menyanggah hukum-hukum yang mereka dapat dari ahli-ahli hukum.  Kesilapan dan sangkaan seperti itu terjadi juga kepada Nabi Ibrahim seperti yang tersebut dalam Al-Quran,  Nabi Ibrahim menghadap kepada bintang,  bulan dan matahari untuk disembah.  Lma kelamaan beliau sedar siapa yang menjadikan semua-benda-benda itu,  lalu boleh berkata, "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."
Kita selalu mendengar orang merujuk kepada sebab yang kedua bukan kepada sebab yang pertama dalam hal apa yang digelar sakit.  Misalnya;   jika seseorang itu  tidak lagi cenderung kepada hal-ehwal keduniaan,  segala keseronakkan biasa tidak lagi dipedilikannya,  dan tidak peduli apa pun,  maka doktor mengatakan,  "Ini adalah kes penyakit gundah gulana,  dan ia perlu sekian-kian ubat atau priskripsi."
Ahli fizik akan berkata "Ini adalah kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak dapat dilegakan kecuali udara menjadi lembab."
Ahli nujum akan mengatakan bahawa itu adalah pengaruh bintang-bintang.
"Setakat itulah kebijaksanaanya mereka." Kata Al-Quran,  tidaklah mereka tahu bahawa sebenarnya apa yang terjadi ialah: Allah Subahana Wataala mengambil berat tentang kebajikan orang yang sakit itu dan dengan itu memerintahkan hamba-hambanya seperti bintang-bintang atau unsur-unsur,  mengeluarkan keadaan seperti itu kepada orang itu agar ianya berpaling dari dunia ini mengadap kepada Tuhan yang menjadikannya.  Pengetahuan tentang hakikat ini adalah sebuah mutiara yang amat bernilai dari lautan ilmu yang berupa Ilham;   dan ilmu-ilmu yang lain itu jika dibandingkan dengan Ilmu Ilham ini adalah ibarat pulau-pulau dalam lautan Ilmu Ilham itu.
Doktor,  Ahli Fizik dan Ahli Nujum itu memang betul dalam bidang ilmu mereka masing-masing.  Tetapi mereka tidak nampak bahawa penyakit itu  bolehlah dikatakan sebagai "Tali Cinta" yang dengan tali itu Allah menarik AuliaNya kepadaNya.  Berkenaan ini Allah ada berfirman yang bermaksud;
"Aku sakit tetapi engkau tidak melawat Aku".
Sakit itu sendiri adalah satu bentuk pengalamaan yang dengannya manusia itu boleh mencapai pengetahuan tentang Allah;  sebagaimana firman Allah melalui mulut Rasul-rasulNya;
"Sakit itu sendiri adalah hambaKu dan dikepilkan(disertakan) kepada orang-orang pilihanKu".
Dengan ulasan-ulasan yang terdahulu,  dapatlah kita meninjau lebih mendalam lagi maksud kata-kata yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang beriman iaitu;
"Maha Suci Allah" (SubhanaLlah)
"Puji-pujian Bagi Allah (Alhamdulillah)
"Tiada Tuhan Melainkan Allah (La ilaha iLlaLlah)
"Allah Maha Besar" (Allahu Akhbar).
Berkenaan dengan "Allahu Akbar" itu bukanlah bermaksud Allah itu lebih besar dari makhluk,  kerana makhluk itu adalah penzhohiranNya sebagaimana cahaya memperlihatkan matahari.  Tidaklah boleh dikatakan matahari itu lebih besar daripada cahayanya.  Ianya bermaksud iaitu Kebesaran Allah itu tidak dpat disukat dan diukur dan melampaui jangkauan kesedaran;  dan kita hanya boleh membentuk idea yang tidak sempurna dan tidak nyata berkenaanNya.
Jika seorang kanak-kanak bertanya kepada kita untuk menerangkan keseronokkan mendapat pangkat yang tinggi,  kita hanya dapat mengatakan seperti perasaan kanak-kanak itu tatkala seronok bermain bola,  meskipun pada hakikat kedua-dua itu tidak ada persamaan langsung,  kecuali hanya kedua-dua perkara itu termasuk dalam jenis keseronokkan.  Oleh yanag demikian,  kata-kata "Allahu Akhbar" itu bererti Kebesaran itu melampaui semua kuasa pengenalaan dan pengetahuan kita.  Tidak sempurna pengenalan kita berkenaan Allah itu bukanlah sangka-sangka sahaja tetapi adalah dsertai oleh ibadat dan pengabadian kita.
Apabila seorang itu mati,  maka ia bersangkut-paut dengan Allah sahaja.  Jika kita terpaksa hidup dengan orang lain,  kebahagiaan kita bergantung kepada darjah kemesraan kita terhadap orang itu. Cinta itu adalah benih kebahagiaan,  dan Cinta kepada Allah itu dimaju dan dibangun melalui ibadat.  Ibadat dan sentiasa mengenang Allah itu memerlukan kita supaya bersikap sederhana dan mengekang kehendak-kehendak badan.  Ini bukanlah bererti semua kehendak badan itu dihapuskan;  kerana itu akan menyebabkan hapusnya bangsa manusia.  Apa yang diperlukan ialah membatas atau mengehad kehendak-kehendak badan itu.  Oleh itu seseorang itu bukanlah Hakim yang paling bijak untuk mengadili dirinya sendiri tentang Had itu.  Maka ia lebih baik merundingi pemimpin-pemimpin keruhanian dalam perkara ini,  dan hukum-hukum yang mereka bawa melalui Wahyi Ilahi menentukan batas dan Had yang mesti diperhatikan dalam hal ini.  Siapa yang melanggar batas atau had ini "Menzholimi dirinya sendiri"(Al-Baqarah; 231).
Walaupun Al-Qur'an telah memberi keterangan yang nyata,  masih ada juga orang yang melanggar batas kerana kejahilan mereka tentang Allah dan kejahilan ini adalah kerana beberapa sebab;
Pertama;  ada golongan manusia yang kekal mencari Allah melalui pemerhatian,  lalu mereka membuat kesimpulan dengan mengatakan tidak ada Tuhan dan alam ini terjadi dengan sendirinya atau wujudnya tanpa permulaan.  Mereka ini seperti orang yang melihat surat yang tertulis dengan indahnya,  dan mereka mengatakan surat itu sedia tertulis tanpa penulis atau telah sedia ada.  Orang yang seperti ini telah jauh tersesat dan tidak berguna berhujah dan bertengkar dengan mereka.  Setengah daripada orang-orang seperti ini adalah Ahli Fizik  dan Ahli Kaji Bintang yang telah kita sebutkan di atas tadi.
Ada pula setengah orang keana kejahilan tentang keadaan  sebenarnya Ruh itu.  Mereka menyangkal adanya hidup di Akhirat dan menyangkal manusia itu diadil di sana.  Mereka anggap diri mereka itu satu taraf dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan dan akan hancur begitu sahaja.
Ada juga orang yang percaya dengan Allah dan Hari Akhirat,  tetapi kepercayaan atau Iman mereka itu sangat lemah.  Mereka berkata kepada diri mereka sendiri;
"Allah itu Maha Agung dan tidak ada sangkut-paut dengan kita,  walaupin kita sembah Dia atau tidak;  tidak menjadi apa-apa kepadaNya".
Fikiran mereka ini seperti orang sakit yang disuruh makan ubat,  tetapi ia berkata; "Apa untung atau ruginya doktor itu jika aku makan ubat atau tidak makan ubat?".  Memang tidak terjadi apa-apa kepada doktor itu tetapi pesakit itulah yang akan bertambah teruk kerana degilnya.  Badan yang sakit  berakhir dengan mati.  Maka Ruh atau Jiwa yang sakit berakhir dengan kesusahan dan kesiksaan di akhirat nanti,  seperti firman Allah Taala dalam Al-Qur'an yang bermaksud;
"Hanya mereka yang kembali kepada Allah dengan hati yang Salim itulah yang akan terselamat".
Jenis orang yang tidak beriman yang keempat ialah mereka yang berkata;
"Hukum Syariat menyuruh kita jangan marah,  jangan menurut nafsu,  jangan bersikap munafik.  Ini tidak mungkin kerana sifat-sifat ini telah memang ada semula jadi pada kita.  Lebih baik tuan suruh saya membuat yang hitam itu jadi putih".
Mereka ini sebenarnya bodoh.  Mereka jahil dengan hukum Syariat.  Hukum Syariat tidak menyuruh manusia membuang sama sekali perasaan itu,  tetapi hendaklah ianya dikontrol supaya tidak melanggar batas yang dibenarkan.  Supaya dengan mengelakkan diri dari dosa besar,  kita boleh memohon keampunan terhadap dosa-dosa kita yang kecil.  Sedangkan Rasulullah ada bersabda;
"Saya ini manusia juga seperti kamu,  dan marah juga seperti orang lain".
Firman Allah dalam Al-Qur'an;
"Allah kasih kepada mereka yang menahan kemarahan mereka".(Al-Imran:146)
Ini bererti bukan mereka yang tidak ada langsung perasaan marah.
Golongan yang kelima ialah mereka yang menekankan Kemurahan Tuahn sahaja tetapi mengenepikan KeadilanNya,  lalu mereka berkata kepada diri mereka sendiri;
"Kami buat apa sahaja kerana Allah itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang".
Mereka tidak ingat meskipun Allah itu Pengasih dan Penyayang,  namun beribu-ribu manusia mati kebuluran dan kerana penyakit.  Meraka tahu,  barangsiapa hendak hidup atau hendak kaya,  atau hendak belajar,  mestilah jangan hanya berkata;  "Allah itu Kasih Sayang".   tetapi perlulah ia berusaha sungguh-sungguh.  Meskipun ada firman Allah dalam Al-Qur'an;  "Tiap-tiap makhluk yang hidup itu Allah beri ia rezeki"(Surah Hud:06);  tetapi hendaklah juga ingat Allah juga berfirman;  "Manusia tidak akan mendapat apa-apa kecuali dengan berusaha".  Sebenarnya mereka yang berpendapat di atas itu adlah dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka bercakap di mulut sahaja,  bukan di hati.
Golongan keenam pula menganggap mereka telah sampai ke taraf kesucian dan tidak berdosa lagi.  Tetapi kalau anda layan mereka dengan kasar dan tidak hormat,  anda akan dengar mereka merungut bertahun-tahun mengata anda;  dan jika anda ambil makanan sesuap pun yang sepatutunya mereka perolehi dari mereka,  seluruh alam ini kelihatan gelap dan sempit pada perasaan mereka.  Jikalau pun mereka itu sebenarnya telah dapat menakluki hawa nafsu mereka,  mereka tidak berhak menganggap dan mengatakan diri mereka itu tidak berdosa lagi,  kerana Nabi Muhammad SAW. sendiri,  manusia yang paling tinggi darjatnya,  sentiasa mengaku salah dan memohon ampun kepada Allah.  Setengah daripada Rasul-rasul itu sangat takut berbuat dosa sehingga daripada perkara-perkara yang halal pun mereka menghidarkan diri mereka.
Adalah diriwayatkan,  suatu hari Nabi Muhammad SAW.  telah diberi sebiji Tamar.  Beliau enggan memakannya kerena beliau tidak pasti sama ada Tamar itu ddapati secara halal atau tidak.  Tetapi mereka menelan arak bergelen-gelen banyaknya dan berkata mereka lebih mulia daripada Nabi. (Saya menggeletar semasa menulis ini) pada hal sebutir Tamar pun tidak disentuh oleh Nabi jika belum pasti sama ada halal atau tidak.  Sesungguhnya mereka telah diheret dan disesatkan oleh Iblis.
Aulia Allah yang sebenarnya mengetahui bahawa orang yang tidak menakluki hawa nafsunya tidak patut dipanggil "orang" dan orang Islam yang sebenarnya ialah mereka yang dengan rela hati tidak mahu melanggar Syariat sewenang-wenangnya.  Mereka yang melanggar Syariat adalah sebenarnya dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka ini sepatutnya bukan dinasihati dengan pena,  tetapi adalah sewajarnya dengan pedang.
Sufi-sufi yang palsu ini kadang-kadang berpura-pura tenggelam dalam lautan kehairanan atau tidak sedar,  tetapi jika anda tanya mereka apakah yang mereka hairankan itu,  mereka tidak tahu.  Sepatutnya mereka disuruh menungkan kehairanan sebanyak-banyak yang mereka suka,  tetapi di samping itu hendaklah ingat bahawa Allah Subhanahuwa Taala itu adalah Pencipta mereka dan mereka itu adalah hamba Allah sahaja.