Minggu, 11 April 2010

Asuhan Keperawatan Pasien dengan BPH

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN BPH

Pengkajian

1. Data subyektif :
  • Pasien mengeluh sakit pada luka insisi.
  • Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.
  • Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.
  • Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.
2. Data Obyektif :
  • Terdapat luka insisi
  • Takikardi
  • Gelisah
  • Tekanan darah meningkat
  • Ekspresi w ajah ketakutan
  • Terpasang kateter
Diagnosa Keperawatan
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
  2. Kurang pengetahuan : tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
  3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan
Intervensi Keperawatan

1. Diagnosa Keperawatan 1 : Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter

Tujuan :
  • Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.
Kriteria hasil :
  • Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang.
  • Pasien dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi :
  • Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10)
  • Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
  • Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)
  • Beri ompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah.
  • Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)
  • Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi
  • Lakukan perawatan aseptik terapeutik
  • Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat.
2. Diagnosa Keperawatan 2 : Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi

Tujuan :
  • Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .
Kriteria hasil :
  • Klien akan melakukan perubahan perilaku.
  • Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.
  • Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan.
Intervensi :
  • Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu.
  • Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.
  • Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.
  • Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.
  • Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh.
3. Diagnosa Keperawatan 3 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan

Tujuan :
  • Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi
Kriteria hasil :
  • Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.
  • Klien mengungkapan sudah bisa tidur.
  • Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.
Intervensi :
  • Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.
  • Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan.Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.
  • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri (analgesik).
Daftar Pustaka
  1. Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  2. Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  3. Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
  4. Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya.
  5. Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar