Sabtu, 28 Mei 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN HARGA DIRI

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tak lupa pula shalawat beriring salam kita ucapkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Makalah KDK II yang penulis angkat ini berjudul “Asuhan Keperawata pada Klien Dengan Gangguan Harga Diri”.

Banyak terlihat di sekitar kita oramg-orang yang mengalami gangguan terhadap harga dirinya, misalnya seseorang kehilangan percaya diri sehingga ia gagal dalam mencapai keinginannya . Oleh karna itu penulis ingin memaparkan tentang apa saja akibat yang bias terjadi karena harga diri rendah. Walaupun secara keseluruhan penulis menyadari dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang telah memberikan tugas ini guna menambah pengetahuan kami.

Agar makalah ini lebih kompleks, penulis sangat berharap agar pembaca dapat memberikan masukan yang membangun. Semoga makalah ini dapat bermamfaat dan dapat menambah wawasan keilmuan pembaca.



Pekanbaru, 30 Juni 2009


Penulis



ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN HARGA DIRI












Disusun oleh : Kelompok III
Ayu Astuti
Cici Permata Sari
Dwi Supriyanto
Nely Oktafiani
Nia Adlina
Siti Maryam
Wiretno Aprenaldi


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
PAYUNG NEGERI PEKANBARU
2009










DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .…………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ..……………………………………………………………………………………. ii
BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………………………………………... 1
A. Latar Belakang …………………………………………………………………………… 1
B. Tujuan ……………………………………………………………………………………. 1
BAB II. TINJAUAN TEORITIS …………………………………………………………………. 2
A. Pengertian Harga Diri ……………………………………………………………………. 2
B. Stressor Harga Diri ………………………………………………………………………. 3
C. Gangguan Harga Diri …………………………………………………………………….. 4
D. Harga Diri Rendah ……………………………………………………………………….. 5
E. Tanda dan Gejalanya …………………………………………………………………….. 5
F. Penyebab Harga Diri Rendah ……………………………………………………………. 6
G. Akibat Harga Diri Rendah ……………………………………………………………….. 7
H. Masalah dan Data Yang Perlu Dikaji ……………………………………………………. 8
I. Diagnosa Keperawatan …………………………………………………………………... 9
BAB III. KASUS …………………………………………………………………………………. 12
A. Identitas ………………………………………………………………………………….. 12
B. Riwayat Singkat …………………………………………………………………………. 12
C. Hasil Pemeriksaan ( obyektif ) …………………………………………………………... 12
D. Masalah Keperawatan …………………………………………………………………… 12
E. Diagnosis Keperawatan ………………………………………………………………….. 12
F. Nursing Care Plan ……………………………………………………………………….. 13
BAB IV. PENUTUP ……………………………………………………………………………… 21
A. Kesimpulan ……………………………………………………………………………… 21
B. Saran ……………………………………………………………………………………… 21
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………….. 22




BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam hidup dan kehidupan kita sering dinasehati tentang kepemilikan harga diri. tiap manusia yang ada didunia ini pasti memiliki harga diri dan tentunya masing-masing orang selalu menginginkan harga diri yang tinggi.
Dalam proses pertumbuhan dan proses kehidupan kita, ternyata tidak mudah dalam membentuk sikap diri yang positif. Karena kita mungkin mempunyai pandangan yang tidak menyenangkan terhadap diri kita sendiri karena pengaruh komentar teman-teman, ortu, saudara atau orang lain. Bisa juga karena kita merasa gagal, tidak dapat berbuat apa-apa, merasa tidak dapat bertanggung jawab terhadap sesuatu yang ditugaskan, atau tidak bisa berkata jujur dan sebagainya.
Seorang perawat adalah sebagai tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum. Dalam menghadapi pasien, seorang perawat harus memahami perbedaan-perbedaan harga diri yang ingin dipertahankan oleh setiap pasien.
Perawat harus bertindak sopan , murah senyum, dan menjaga perasaan pasien. Ini harus dilakukan karena perawat adalah membantu dalam proses penyembuhan pasien bukan memperburuk keadaan. Dengan adanya saling percaya antara perawat dengan pasien maka diharapkan seorang perawat bisa menjalin hubungan yang lebih akrab dengan pasien.
Dengan hubungan baik ini, maka akan terjalin sikap saling menghormati dan menghargai diantara keduanya. Dengan demikian akan mempermudah perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan pembaca baik di kalangan tenaga kesahatan maupun public.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk memenuhi nilai tugas mata pelajaran KDK II
b. Untuk memberikan pengetahuan baik kepada penulis maupun pembaca
c. Untuk memahami gangguan yang terjadi akibat dari harga diri rendah



BAB II. TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Harga Diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (stuartand sundeen, 1991 ).

Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah dicintai dan menerima penghargaan dari orang lain ( Keliat, 1992 ).

Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut, Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Haraga diri tinggi terkait dengan ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait degan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia.

Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaannegatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negative self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat diekspresikan secara langsung atau tidak langsung ( nyata atau tidak nyata ). Menurut beberapa ahli dikemukakan factor-faktor yang mempengaruhi gangguan harga diri, seperti :

1. Perkembangan Individu.

Factor predisposisi dapat dimulai sjak masih bayi, seperti penolakan orang tua menyebabkan anak tidak merasa dicintai dan mengakibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. Pada saat anak berkembang lebih besar, anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. Ia merasa tidak adekuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri, memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap perilakunya. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol, membuat anak merasa tidak berguna.



2. Ideal diri tidak realistis.

Idnividu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagaldan berbuat kesalahan. Ia membuat standart yang tidak dapat dicapai, seperti cita-cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang.

3. Ganguan Fisik Dan Mental.

Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri.

4. Sistem Keluarga yang Tidak Berfungsi.

Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak denga baik. Orang tua member umpan baik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan dilingkungannya.

5. Pengalaman traumatic yang berulang, misalnya akibat aniaya fisik, emosi, seksual.

Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik, emosi, peperangan, bencana alam, kecelakaan atau perampokan. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya megingkari trauma, mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu. Akibatnya koping yang biasanya berkembang adalah depresi yang denial pada trauma.

B. Stressor Harga Diri

• Kehilangan pekerjaan – diperlakukan kasar
• Kegagalan berulang – konflik dengan orang lain
• Dikucilkan – kelemahan seksual
• Ideal diri yang tidak realistis
• Ketergantungan pada orang lain
• Bercerai
• Diabaikan
• Diperkosa

C. Gangguan Harga Diri

Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terahadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mecapai keinginan. Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara :

1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi ( korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba ).

a. Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya pemeriksaan fisik yang sembarangan pemasangan yang tidak sopan ( pengukuran pubis, pemasangan kateler pemeriksaan perincal ).
b. Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat / sakit / penyakit.
c. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagi tindakan tanpa persetujuan.

2. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sakit/dirawat klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif. Kejadian sakit atau dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.

Tanda dan gejala yang dapat dikaji :

1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya malu dan sedih karena rambut menjadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker.
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya ini tidak akan terjadi jika saya segera kerumah sakit, menyalah gunakan / mengejek dan mengkritik diri sendiri.
3. Merendahkan martabat. Misalnya saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
4. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.
5. Percaya diri kurang. Klien suka mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan.
6. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.

D. Harga Diri Rendah

Harga diri rendah merupakan evaluasi diri dari perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif baik langsung maupun tidak langsung. Pendapat senada dikemukakan oleh Carpenito, L.J (1998:352) bahwa harga diri rendah merupakan keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri yang negatif mengenai diri atau kemampuan diri. Dari pendapat-pendapat diatas dapat dibuat kesimpulan, harga diri rendah adalah suatu perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilangnya kepercayaan diri,dan gagal mencapai tujuan yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung, penurunan harga diri ini dapat bersifat situasional maupun kronis atau menahun.

E. Tanda dan Gejalanya

Menurut Carpineto, L.J ( 1998:352 ); Keliat, B.A ( 1994:20 ); perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah antara lain:

Data subjektif:
a. Mengkritik diri sendiri atau orang lain
b. Perasaan dirinya sangat penting yang berlebih-lebihan
c. Perasaan tidak mampu
d. Rasa bersalah
e. Sikap negative pada diri sendiri
f. Sikap pesimis pada kehidupan
g. Keluhan sakit fisik
h. Pandangan hidup yang terpolarisasi
i. Menolak kemampuan diri sendiri
j. Pengurangn diri/mengejek diri sendiri
k. Perasaan cemas dan takut
l. Merasionalisasi penolakan/menjauh dari umpan balik positif
m. Mengungkapkan kegagalan pribadi
n. Ketidak mampuan menentukan tujuan

Data objektif:
a. Produktivitas menurun
b. Perilaku destruktif pada diri sendiri
c. Perilaku destruktif pada orang lain
d. Penyalahgunaan zat
e. Menarik diridari hubungan social
f. Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah
g. Menunjukkan tanda depresi ( sukar tidur dan sukar makan )
h. Tampak mudah tersinggung/mudah marah

F. Penyebab Harga Diri Rendah

Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping indivindu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif, kurangnya system pendukung, kemunduran perkembangan ego, pengulangan umpan balik negative, disfungsi system keluarga serta terfiksasi pada tahap perkembangan awal ( Townsend, M.C,1998:366 ).

Menurut Carpenito, L.J (1998:82 ) koping indivindu tidak efektif adalah keadaan dimana seorang indivindu mengalami atau berisiko mengalami suatu ketidakmampuan dalam menangani stressor internal atau lingkungan dengan adekuat karena ketidakadekuatan sumber-sumber ( fisik, psikologis, perilaku atau kognitif ).

Sedangkan menurut Townsend, M.C ( 1998: 312 ) koping indivindu tidak efektif merupakan kelainan perilaku adaptif dan kemampuan memecahkan masalah seseorang dalam memenuhi tuntunan kehidupan dan peran.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat dibuat kesimpulan, individu yang mempunyai koping individu tidak efektif akan menunjukkan ketidak mampuan dalam menyesuaikan diri atau tidak dapat memecahkan masalah terhadap tuntutan hidup serta peran yang dihadapi. Adanya koping individu tidak efektif sering ditunjukkan dengan prilaku ( Carpenito,L.J, 1998:83; Townsend, M.C, 1998:313 ) sebagai berikut:

Data subjektif :
a. Mengungkapkan ketidak mampuan untuk mengatasi masalah atau meminta bantuan
b. Mengungkapkan perasaan khawatir dan cemas yang berkepanjangan
c. Mengungkapkan ketidak mampuan menjalankan peran

Data Objektif :
a. Perubahan partisipasi dalam masyarakat
b. Peningkatan ketergantungan
c. Memanipulasi orang lain disekitarnya untuk tujuan-tujuan memenuhi keinginan sendiri
d. Menolak mengikuti aturan-aturan yang berlaku
e. Perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri dan orang lain
f. Memanipulasi varbel/perubahan dalam pola komunikasi
g. Ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar
h. Penyalah gunaan obat terlarang

G. Akibat Harga Diri Rendah

Harga dapat beresiko terjadinya isolasi sosial : menarik diri, isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang maladaptif, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial ( DepKes RI, 1998:336 ). Isolasi sosial menarik diri sering ditunjukkan dengan prilaku antara lain :


Data subjektif
a. Mengungkapkan enggan untuk memulai hubungan/pembicaraan
b. Mengungkapkan perasan malu untuk berhubungan dengan orang lain
c. Mengungkapkan kekwatiran terhadap penolakan oleh orang lain

Data Objektif
a. Kurang spontan ketika diajak bicara
b. Apatis
c. Ekspresi wajah kosong
d. Menurun/tidak adanya komunikasi verbal
e. Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat berbicara

H. Masalah dan Data yang Perlu Dikaji
Isolasi sosial : menarik diri
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
Berduka disfungsional
No Masalah Keperawatan Data Subyektif Data Obyektif
1 Isolasi sosial : menarik diri • Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi
• Mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain
• Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain
• Ekspresi wajah kosong
• Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara
• Suara pelan dan tidak jelas
2 Gangguan konsep diri : harga diri rendah • Mengungkapkan ingin diakui jati dirinya
• Mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli
• Mengungkapkan tidak bisa apa-apa
• Mengungkapkan dirinya tidak berguna
• Mengkritik diri sendiri
• Merusak diri sendiri
• Merusak orang lain
• Menarik diri dari hubungan sosial
• Tampak mudah tersinggung
• Tidak mau makan dan tidak tidur
• Perasaan malu
• Tidak nyaman jika jadi pusat perhatian
3 Berduka disfungsional • Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi
• Mengungkapkan sedih karena tidak naik kelas
• Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain karena diceraikan suaminya • Ekspresi wajah sedih
• Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara
• Suara pelan dan tidak jelas
• Tampak menangis


I. Diagnosa Keperawatan

1. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional.




1. Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa 1: Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya.
2. Tujuan khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
3. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
4. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
1. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis
3. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan :
1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah



4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
1. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
2. Beri pujian atas keberhasilan klien
3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
2. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
4. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga















BAB III. KASUS

A. Identitas
Nama : Nn. I
Umur : 25 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : TKW
Alamat : Sukajadi
No. RM : 21044
Tanggal Pengkajian : 7 Juni 2009
RS / bangsal :

B. Riwayat singkat

Klien dibawa ke RSJ Tampan dengan diantar oleh keluarga dengan alasan berdiam diri, menangis sendiri, sering memecahkan peralatan rumah tangga, tidak mau makan dan mengeluh sering mendengarkan suara-suara yang menakutkan. Sebelumnya klien memang mengalami syok yang hebat, ia sebelumnya pernah bekerja menjadi TKI di Malaysia. Pada saat ia pulang ke Indonesia kondisinya memang sangat memprihatinkan, ia di perkosa oleh majikannya sendiri dan dilakukan berulang-ulang oleh sang majikan. Pada saat dilakukan pengkajian terhadap klien, klien tampak mengalami syok dan sering berdiam diri.
C. Hasil Pemeriksaan (obyetif)

TD : 100/60 mmHg
Nadi : 92 x/menit
BB : 40 kg
Pada pasien didapatkan afek datar, blocking.

D. Masalah Keperawatan
Merasa harga diri rendah dan tidak berharga.
E. Diagnosis Keperawatan
1. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
2. Isolasi Sosial : Menarik Diri

I.Nursing Care Plan
Diagnosa keperawatan I : Resiko tinggi perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran
Tujuan umum : Klien dapat mengendalikan halusinasinya.
TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Intervensi
1. Bina hubungan saling percaya
• Salam terapeutik
• Perkenalkan diri
• Jelaskan tujuan interaksi
• Buat kontrak yang jelas
• Menerima klien apa adanya
• Kontak mata positif
• Ciptakan lingkungan yang terapeutik
2. Dorong klien dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
3. Dengarkan ungkapan klien dengan rasa empati.
Rasional:
1. Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi yang terapeutik antara perawat dan klien
2. Ungkapan perasaan oleh klien sebagai bukti bahwa klien mempercayai perawat
3. Empati perawat akan meningkatkan hubungan terapeutik perawat-klien
Evaluasi:
Klien dapat mengungkapkan perasaannya dan kondisinya secara verbal

TUK 2 : Klien dapat mengenali halusinasinya
Intervensi :
1. Adakan kontak secara sering dan singkat
2. Observasi tingkah laku verbal dan non verbal klien yang terkait dengan halusinasi (sikap seperti mendengarkan sesuatu, bicara atau tertawa sendiri, terdiam di tengah – tengah pembicaraan).
3. Terima halusinasi sebagai hal yang nyata bagi klien dan tidak nyata bagi perawat.
4. Identifikasi bersama klien tentang waktu munculnya halusinasi, isi halusinasi dan frekuensi timbulnya halusinasi.
5. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya ketika halusinasi muncul.
6. Diskusikan dengan klien mengenai perasaannya saat terjadi halusinasi.
Rasional :
1. Mengurangi waktu kosong bagi klien untuk menyendiri.
2. Mengumpulkan data intervensi terkait dengan halusinasi.
3. Memperkenalkan hal yang merupakan realita pada klien.
4. Melibatkan klien dalam memperkenalkan halusinasinya.
5. Mengetahui koping klien sebagai data intervensi keperawatan selanjutnya.
6. Membantu klien mengenali tingkah lakunya saat halusinasi.
Evaluasi :
1. Klien dapat membedakan hal yang nyata dan yang tidak setelah 3-4 kali pertemuan dengan menceritakan hal – hal yang nyata.
2. Klien dapat menyebutkan situasi, isi dan waktu timbulnya halusinasi setelah 3 kali pertemuan.
3. Klien dapat mengungkapkan respon perilakunya saat halusinasi terjadi setelah 2 kali pertemuan.

TUK 3 : Klien dapat mengendalikan halusinasinya
Intervensi :
1. Identifikasi tindakan klien yang positif.
2. Beri pujian atas tindakan klien yang positif.
3. Bersama klien rencanakan kegiatan untuk mencegah terjadinya halusinasi.
4. Diskusikan ajarkan cara mengatasi halusinasi.
5. Dorong klien untuk memilih cara yang disukai untuk mengontrol halusinasi.
6. Beri pujian atas pilihan klien yang tepat.
7. Dorong klien untuk melakukan tindakan yang telah dipilih.
8. Diskusikan dengan klien hasil atau upaya yang telah dilakukan.
9. Beri penguatan atas upaya yang telah berhasil dilakukan dan beri solusi jika ada keluhan klien tentang cara yang dipilih.
Rasional :
1. Mengetahui cara – cara klien mengatasi halusinasi baik yang positif maupun yang negatif.
2. Menghargai respon atau upaya klien.
3. Melibatkan klien dalam menentukan rencana intervensi.
4. Memberikan informasi dan alternatif cara mengatasi halusinasi pada klien.
5. Memberi kesempatan pada klien untuk memilihkan cara sesuai kehendak dan kemampuannya.
6. Meningkatkan rasa percaya diri klien.
7. Motivasi respon klien atas upaya yang telah dilakukan.
8. Melibatkan klien dalam menghadapi masalah halusinasi lanjutan
Evaluasi :
1. Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan dan saat halusinasi terjadi setelah dua kali pertemuan.
2. Klien dapat menyebutkan 2 dari 3 cara mengatasi halusinasi.

TUK 4 : Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol halusinasinya.
Intervensi :
1. Diskusikan dengan klien tentang obat untuk mengontrol halusinasinya.
2. Bantu klien untuk memutuskan bahwa klien minum obat sesuai program dokter.
3. Observasi tanda dan gejala terkait efek dan efek samping.
4. Diskusikan dengan dokter tentang efek dan efek samping obat
Rasional :
1. Memberikan informasi dan meningkatkan pengetahuan klien tentang efek obat terhadap halusinasinya.
2. Memastikan klien meminum obat secara teratur.
3. Mengobservasi efektivitas program pengobatan.
4. Memastikan efek obat – obatan yang tidak diharapkan terhadap klien.
Evaluasi :
Klien meminum obat secara teratur sesuai instruksi dokter.

TUK 5 : Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengendalikan halusinasi.
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya dengan klien.
2. Kaji pengetahuan keluarga tentang halusinasi dan tindakan yang dilakukan keluarga dalam merawat klien.
3. Beri penguatan positif atas upaya yang baik dalam merawat klien.
4. Diskusikan dan ajarkan dengan keluarga tentang : halusinasi, tanda – tanda dan cara merawat halusinasi.
5. Beri pujian atas upaya keluarga yang positif.
Rasional :
1. Sebagai upaya membina hubungan terapeutik dengan keluarga.
2. Mencari data awal untuk menentukan intervensi selanjutnya.
3. Penguatan untuk menghargai upaya keluarga.
4. Memberikan informasi dan mengajarkan keluarga tentang halusinasi dan cara merawat klien.
5. Pujian untuk menghargai keluarga.
Evaluasi :
1. Keluarga dapat menyebutkan cara – cara merawat klien halusinasi.

Diagnosa keperawatan 2 Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah.
Tujuan umum : Klien mampu berhubungan dengan orang lain tanpa merasa rendah diri.
TUK 1 : Klien dapat memperluas kesadaran diri.
Intervensi :
1. Diskusikan dengan klien kelebihan yang dimilikinya.
2. Diskusikan kelemahan yang dimiliki klien.
3. Beritahu klien bahwa manusia tidak ada yang sempurna, semua memiliki kelebihan dan kekurangan.
4. Beritahu klien bahwa kekurangan bisa ditutupi dengan kelebihan yang dimiliki klien.
5. Anjurkan klien untuk lebih meningkatkan kelebihan yang dimiliki klien.
6. Beritahukan bahwa ada hikmah di balik kekurangan yang dimiliki.
Rasional :
1. Mengidentifikasikan hal – hal positif yang masih dimiliki klien.
2. Mengingatkan klien bahwa ia manusia biasa yang mempunyai kekurangan.
3. Menghadirkan realita pada klien.
4. Memberikan harapan pada klien.
5. Memberikan kesempatan berhasil lebih tinggi.
6. Agar klien tidak merasa putus asa.
Evaluasi :
1. Klien dapat menyebutkan kemampuan yang ada pada dirinya setelah 1 kali pertemuan.
2. Klien dapat menyebutkan kelemahan yang dimiliki dan tidak menjadi halangan untuk mencapai keberhasilan.
TUK 2 : Klien dapat menyelidiki dirinya.
Intervensi :
1. Diskusikan dengan klien ideal dirinya, apa harapan selama di RS, rencana klien setelah pulang dan apa cita – cita yang ingin dicapai.
2. Bantu klien mengembangkan antara keinginan dan kemampuan yang dimilikinya.
3. Beri kesempatan klien untuk berhasil.
4. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
Rasional :
1. Untuk mengetahui sampai dimana realistis dari harapan klien.
2. Membantu klien membentuk harapan yang realistis.
3. Meningkatkan percaya diri klien.
4. Meningkatkan penghargaan terhadap perilaku yang positif.
Evaluasi :
Klien dapat menyebutkan cita-cita dan harapan yang sesuai dengan kemampuannya setelah 1 kali pertemuan.

TUK 3 : Klien dapat mengevaluasi dirinya.
Intervensi :
1. Bantu klien mengidentifikasi kegiatan atau yang berhasil dicapainya.
2. Kaji bagaimana perasaan klien dengan keberhasilan tersebut.
3. Bicarakan kegagalan yang pernah dialami klien dan sebab – sebab kegagalan.
4. Kaji bagaimana respon klien terhadap kegagalan tersebut dan cara mengatasinya.
5. Jelaskan pada klien bahwa kegagalan yang dialami dapat menjadi pelajaran untuk mengatasi kesulitan yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.


Rasional :
1. Mengingatkan klien bahwa ia tidak selalu gagal.
2. Memberi kesempatan klien untuk menilai dirinya sendiri.
3. Mengetahui apakah kegagalan tersebut mempengaruhi klien.
4. Mengetahui koping yang selama ini digunakan oleh klien.
5. Memberikan kekuatan pada klien bahwa kegagalan itu bukan merupakan akhir dari suatu usaha.
Evaluasi :
1. Klien dapat menyebutkan keberhasilan yang pernah dialami setelah 1 kali pertemuan.
2. Klien dapat menyebutkan kegagalan yang pernah dialami setelah 4 kali pertemuan.
TUK 4 : Klien dapat membuat rencana yang realistis.
Intervensi :
1. Bantu klien merumuskan tujuan yang ingin dicapainya.
2. Diskusikan dengan klien tujuan yang ingin dicapai dengan kemampuan klien.
3. Bantu klien memilih priotitas tujuan yang mungkin dapat dicapainya.
4. Beri kesempatan klien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilih.
5. Tunjukkan keterampilan dan keberhasilan yang telah dicapai klien.
6. Ikut sertakan klien dalam kegiatan aktivitas kelompok.
7. Beri reinforcement positif bila klien mau mengikuti kegiatan kelompok.
Rasional :
1. Agar klien tetap realistis dengan kemampuan yang dimiliki.
2. Mempertahankan klien untuk tetap realistis.
3. Agar prioritas yang dipilih sesuai dengan kemampuan.
4. Menghargai keputusan yang telah dipilih klien.
5. Memberikan penghargaan atas keberhasilan yang telah dicapai.
6. Memberikan kesempatan klien di dalam kelompok mengembangkan kemampuannya.
7. Meningkatkan harga diri klien.
Evaluasi :
1. Klien dapat menyebutkan tujuan yang ingin dicapai setelah 1 kali pertemuan.
2. Klien dapat membuat keputusan dan mencapai tujuan setelah 1 kali pertemuan.
TUK 5 : Klien dapat dukungan keluarga yang meningkatkan harga dirinya.
Intervensi :
1. Diskusikan dengan keluarga tanda – tanda harga diri rendah.
2. Anjurkan setiap anggota keluarga untuk mengenal dan menghargai klien tidak mengejek, tidak menjauhi.
3. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan kesempatan berhasil pada klien.
4. Anjurkan pada keluarga untuk menerima klien apa adanya.
5. Anjurkan keluarga untuk melibatkan klien dalam setiap pertemuan keluarga.
Rasional :
1. Mengantisipasi masalah yang timbul.
2. Menyiapkan support sistem yang akurat.
3. Memberikan kesempatan pada klien untuk sukses.
4. Membantu meningkatkan harga diri klien.
5. Meningkatkan interaksi klien dengan anggota keluarga.
Evaluasi :
1. Keluarga dapat menyebutkan tanda – tanda harga diri rendah.
• Mengatakan diri tidak berharga
• Tidak berguna dan tidak mampu
• Pesimis dan menarik diri dari realita
2. Keluarga dapat berespon dan memperlakukan klien secara tepat setelah 2 kali pertemuan.
BAB IV. PENUTUP

A. Kesimpulan
Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan ( Townsend, 1998 ).
Menurut Schult & Videbeck ( 1998 ), gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diiri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan. (Budi Ana Keliat, 1999).
Jadi dapat disimpulkan bahwa perasaan negatif terhadap diri sendiri yang dapat diekspresikan secara langsung dan tak langsung.hal ini ditandai dengan adanya upaya menarik diri dari lingkungannya,yang disebabkan dari harga diri rendah yaitu berduka disfungsional.

B. Saran
Bermutu atau tidaknya pelayanan Keperawatan di suatu Rumah Sakit sangat bergantung pada kerjasama antar Perawat itu sendiri. Apabila tidak adanya suatu hubungan yang baik antara sesama anggota dan klien maka akan sulit membangun kepercayaan masyarakat dalam Asuhan Keperawatan yang diberikan. Agar kinerja dalam keperawatan berjalan dengan efektif maka seorang perawat juga perlu memahami setiap karakter yang berbeda dari setiap klien. Selain dapat memberikan hasil kerja yang terbaik, dalam memberikan Asuhan Keperawatan juga dapat dilakukan dengan lancar.













DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 1998. Buku saku Diagnosa keperawatan (terjemahan), edisi 8. EGC: Jakarta.
DepKes RI. 1989. Petunjuk Teknik Asuhan Keperawatan Paasien Gangguan Skizofrenia. Direktorat Kesehatan Jiwa: Jakarta.
Imron. 2009. Gangguan Jiwa. http://www.imron46.co.cc/2009/02/gangguan-konsep-diri-harga-diri-rendah.html. Diperoleh Tanggal 8 Juni 2009.
Keliat, B.A. 1994. Seri Keperawatan Gangguan Konsep Diri. EGC: Jakarta.
Sabiah, S.Kp. 2003. Konsep Diri. http://duniapsikologi.dagdigdug.com/files/2008/12/konsep-diri.pdf. Diperoleh Tanggal 8 Juni 2009.
Stuart, G.W & sundeen, S.J. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan), Edisi 3. EGC: Jakarta.
Townsend, M.C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikitari (terjemahan), Edisi 3. EGC: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar