Jumat, 15 Januari 2010

Ablasio Retina

PENDAHULUAN
Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata. Retina atau selaput jala mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya (fotoresptor). Terdapat dua tipe sel fotoreseptor pada retina, yaitu sel batang dan sel kerucut. 1,2,3,4

Retina berbatasan dengan koroid dengan sel epitel pigmen retina. Epitel pigmen retina terdiri dari satu lapis sel yang terfiksasi pada membrana Bruch yang merupakan lapisan aseluler di mana bagian dalamnya berfungsi sebagai membrana basalis epitel pigmen retina. Ruang potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga vesikel optik embrionik. Kedua jaringan ini melekat longgar pada mata yang matur sehingga mudah terpisah dan membentuk suatu ruang subretina, seperti yang terjadi pada ablasio retina.1,2,3

Ablasio retina (retinal detachment) adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan sel batang retina dengan dari sel epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran Bruch. Sesungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan struktural dengan koroid atau epitel pigmen, sehingga merupakan titik lemah yang potensial untuk lepas secara embriologis.1

Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang dari koroid atau sel epitel pigmen retina akan mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung lama akan mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap.1

EPIDEMIOLOGI
Ablasio retina jarang terjadi pada populasi umum, tetapi suatu unit pelayanan kesehatan mata yang melayani sekitar 500.000 populasi kemungkinan menemukan kasus ablasio retina tiga sampai empat kasus per minggu. Meskipun kadang mengenai anak-anak, namun insidens ablasio retina meningkat seiring bertambahnya umur dan mencapai maksimum pada kelompok usia 50-60 tahun. Kejadian ablasio retina sedikit meningkat pada usia pertengahan (usia 20-30 tahun) akibat trauma.3 Beberapa populasi memiliki bakat dan peluang besar mengalami ablasio retina, misalnya mata dengan miopia tinggi, pasca retinitis, dan retina yang memperlihatkan degenerasi di bagian perifer.3

KLASIFIKASI
Dikenal ada 3 bentuk ablasio retina :1,2,3,5,7
1. Ablasio retina regmatogenosa
2. Ablasio retina traksional (tarikan)
3. Ablasio retina eksudatif
Ablasio retina traksi (tarikan) dan ablasio retina eksudatif dapat digolongkan sebagai ablasio retina non-regmatogenosa.

ETIOLOGI
 Ablasio retina regmatogenosa
Ablasio retina ini terjadi akibat adanya robekan pada retina. Biasanya terjadi pada retina bagian perifer, jarang pada makula. Miopia tinggi, afakia, degenerasi lattice dan trauma mata biasanya berkaitan dengan ablasio retina jenis ini.2,5
 Ablasio retina traksional (tarikan)
Ablasio retina traksional terjadi akibat adanya tarikan (traksi) oleh jaringan parut pada badan kaca menyebabkan retina terangkat dari epitel pigmennya. Jaringan fibrosis pada badan kaca dapat disebabkan oleh retinopati diabetik proliferatif, vitreoretinopati proliferatif, trauma mata, dan perdarahan badan kaca akibat pembedahan atau infeksi.1,2,5,6
 Ablasio retina eksudatif/serosa
Ablasio retina eksudatif terjadi akibat adanya penimbunan cairan eksudat di bawah retina (subretina) dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina terjadi akibat ekstravasasi cairan dari pembuluh retina dan koroid, misalnya pada penyakit epitel pigmen retina dan koroid. Penyakit degeneratif, kelainan kongenital, tumor pada koroid, miopia tinggi yang disertai lubang makula (macular hole) pada pemeriksaan funduskopi, vaskulopati (misalnya hipertensi maligna, toksemia gravidarum/eklampsia, penyakit kolagen), inflamasi dan infeksi pada jaringan uvea dapat dikaitkan dengan ablasio retina jenis ini.1,2,8


ANATOMI
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yg lebih tajam sehingga terdapat 2 bentuk kelengkungan yang berbeda. Secara klinis, mata dapat dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen anterior (semua struktur dari dan termasuk juga lensa ke depan) dan segmen posterior (semua struktur yang terdapat di posterior lensa).1,3
Bola mata dibungkus oleh 3 jaringan ikat :1
1. Sklera merupakan jaringan ikat kenyal dan memberikan bentuk pd mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan cahaya masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar daripada sklera.
2. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Terdiri dari iris, korpus siliaris, dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar yang masuk ke dalam mata. Otot dilatator dipersarafi oleh simpatis sedangkan sfingter iris dan otot siliar dipersarafi oleh parasimpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. Corpus siliaris yang menghasilkan humor akuos yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera.
3. Retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan sebanyak 10 lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak.

Badan kaca (vitreus humor) mengisi rongga dalam bola mata dan bersifat gelatin yang hanya menempel pada papil saraf optik, makula, dan pars plana. Bila terdapat jaringan ikat di dalam badan kaca disertai dengan tarikan pada retina, maka akan robek dan terjadi ablasio retina.
Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya oleh zonula zinn. Lensa mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula lutea. Terdapat 6 otot penggerak bola mata dan terdapat kelenjar lakrimal yg terletak pd daerah temporal atas dalam rongga orbita.


Retina
Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya. Retina berbatasan dengan koroid dengan sel epitel pigmen retina.

Lapisan-lapisan retina dari luar ke dalam :1,2,4
1. Epitel pigmen retina.
2. Lapisan fotoreseptor, terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping dan sel kerucut merupakan sel fotosensitif.
3. Membran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi.
4. Lapisan nukleus luar, merupakan susunan lapis nukleus kerucut dan batang.
5. Lapisan pleksiform luar, yaitu lapisan aseluler yang merupakan tempat sinapsis fotoreseptor dengan sel bipolar dan horizontal.
6. Lapisan nukleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal, dan sel Muller. Lapisan ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral.
7. Lapisan pleksiform dalam, merupakan lapisan aseluler tempat sinaps sel bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion.
8. Lapisan sel ganglion yang merupakan lapisan badan sel dari neuron kedua.
9. Lapisan serabut saraf merupakan lapisan akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik. Di dalam lapisan ini terdapat sebagian besar pembuluh darah retina.
10. Membran limitan interna, merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca.
Vaskularisasi Retina
Retina menerima darah dari dua sumber, yaitu arteri retina sentralis yang merupakan cabang dari arteri oftalmika dan khoriokapilari yang berada tepat di luar membrana Bruch. Arteri retina sentralis memvaskularisasi dua per tiga sebelah dalam dari lapisan retina (membran limitans interna sampai lapisan inti dalam), sedangkan sepertiga bagian luar dari lapisan retina (lapisan plexiform luar sampai epitel pigmen retina) mendapat nutrisi dari pembuluh darah di koroid. Arteri retina sentralis masuk ke retina melalui nervus optik dan bercabang-cabang pada permukaan dalam retina. Cabang-cabang dari arteri ini merupakan arteri terminalis tanpa anastomose. Lapisan retina bagian luar tidak mengandung pembuluh-pembuluh kapiler sehingga nutrisinya diperoleh melalui difusi yang secara primer berasal dari lapisan yang kaya pembuluh darah pada koroid. 1,2,3,7
Pembuluh darah retina memiliki lapisan endotel yang tidak berlubang, membentuk sawar darah retina. Lapisan endotel pembuluh koroid dapat ditembus. Sawar darah retina sebelah luar terletak setinggi lapisan epitel pigmen retina.2
Fovea sentralis merupakan daerah avaskuler dan sepenuhnya tergantung pada difusi sirkulasi koroid untuk nutrisinya. Jika retina mengalami ablasi sampai mengenai fovea maka akan terjadi kerusakan yang irreversibel.2,3

Innervasi Retina
Neurosensoris pada retina tidak memberikan suplai sensibel. Kelainan-kelainan yang terjadi pada retina tidak menimbulkan nyeri akibat tidak adanya saraf sensoris pada retina.7
Untuk melihat fungsi retina maka dilakukan pemeriksaan subyektif retina seperti : tajam penglihatan, penglihatan warna, dan lapangan pandang. Pemeriksaan obyektif adalah elektroretinogram (ERG), elektro-okulogram (EOG), dan visual evoked respons (VER).1
Salah satu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui keutuhan retina adalah pemeriksaan funduskopi.1

PATOGENESIS
Ablasio retina merupakan suatu keadaan terpisahnya sel sensoris retina dari epitel pigmen retina. Pemisahan tersebut dapat terjadi sesuai tiga tipe ablasio retina, yaitu ablasio retina regmatogenosa dan ablasio retina non-regmatogenosa. Ablasio retina non-regmatogenosa sendiri terbagi menjadi ablasio retina traksi dan ablasio retina eksudatif.1

Ablasio Retina Regmatogenosa
Kata regmatogenosa berasal dari bahasa Yunani ”rhegma” yang berarti robek atau terputus. Pada tipe ini, terjadi robekan pada retina sehingga cairan yang masuk ke belakang antara sel pigmen dengan sel fotoreseptor. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair (fluid vitreous) seperti yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapisan epitel pigmen.1,5
Karakteristik ablasio retina regmatogenosa adalah pemutusan total (full thickness) di area sensorik, tarikan korpus vitreus dengan derajat yang bervariasi dan mengalirnya korpus vitreus cair melalui defek retina sensorik ke dalam ruang subretina. Ablasio retina regmatogenosa spontan biasanya didahului oleh pelepasan korpus vitreus. Miopia, afakia, lattice degeneration (kelemahan retina perifer dasar), dan trauma mata biasanya berkaitan dengan ablasio retina jenis ini.2,9
Robekan pada ablasio retina regmatogenosa biasanya terjadi pada setengah superior dari retina pada regio degenerasi ekuatorial. Ablasio retina yang berlokasi di daerah supratemporal sangat berbahaya karena dapat mengangkat makula. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasio retina bila lepasnya retina mengenai makula lutea.1,7
Ablasio retina akan memberikan gejala terdapatnya gangguan penglihatan yang kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup. Terdapatnya riwayat adanya pijaran api (fotopsia) pada lapangan penglihatan sebagai gejala awal terjadinya ablasio retina. Fotopsia ini merupakan tanda dini terjadinya robekan pada retina, yang biasanya terletak di bagian perifer retina. Fotopsia ini akan lebih nyata bila mata digerakkan dan digoyangkan dengan kuat di tempat yang gelap.4
Retina yang mengalami ablasio dapat dilihat pada oftalmoskop sebagai membran abu-abu merah muda yang sebagain menutup gambaran vaskular koroid. Retina yang terangkat berwarna pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan retina berwarna merah (pada ablasio retina regmatogenosa).1,9,11

Bila bola mata bergerak akan terlihat retina yang terlepas (ablasi) bergoyang. Kadang-kadang terdapat pigmen dalam badan kaca. Pada pupil terlihat adanya defek aferen pupil akibat penglihatan yang menurun. Tekanan bola mata rendah dan dapat meninggi bila terdapat neovaskularisasi.1

Ablasio Retina Traksional
Jenis ablasio ini adalah jenis ablasio tersering kedua dan terutama disebabkan oleh retinopati diabetes proliferatif, vitreoretinopati proliferatif, retinopati pada prematuritas, atau trauma mata. Dibandingkan degan ablasio retina regmatogenosa, ablasio retina akibat traksi memiliki bentuk yang khas, yakni permukaan yang lebih konkaf dan cenderung lebih lokal, biasanya tidak meluas ke ora serata. Gaya-gaya traksi yang secara aktif menarik retina sensorik menjauhi epitel pigmen di bawahnya disebabkan oleh adanya membran vitreosa, epiretina atau subretina yang terdiri dari fibroblas dan sel glia atau sel epitel pigmen retina.2,8


Ablasio Retina Eksudatif
Terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah retina dan koroid. Kelainan ini dapat terjadi pada skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, radang uvea, idiopatik, toksemia gravidarum. Cairan di bawah retina tidak dipengaruhi oleh posisi kepala. Permukaan retina yang terangkat akan terlihat licin. Penglihatan dapat berkurang dari ringan sampai berat. Ablasi ini dapat hilang atau menetap bertahun-tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.1
Penimbunan cairan subretina biasanya berasal dari gangguan sawar darah-retina, kerusakan epitel pigmen retina atau gangguan mekanisme pompa subretina.7


DIAGNOSIS
Diagnosis ablasio retina ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan oftalmologi, dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis
Gejala yang sering dikeluhkan penderita adalah :
1. Floaters, terjadi karena adanya kekeruhan di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi vitreus itu sendiri. Kadang-kadang penderita merasakan adanya tabir atau bayangan yang datang dari perifer (biasanya dari sisi nasal) meluas dalam lapangan pandang. Tabir ini bergerak bersama-sama dengan gerakan mata dan menjadi lebih nyata. Pada stadium awal, penglihatannya membaik di malam hari dan memburuk di siang hari terutama sesudah stres fisik (membungkuk, mengangkat) atau mengendarai mobil di jalan bergelombang.
2. Fotopsia yang umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap. Keadaan ini disebabkan oleh tarikan pada retina dan bisa terjadi pada orang normal jika terjadi cedera tumpul pada mata.
3. Penurunan tajam penglihatan. Pasien mengeluh penglihatannya sebagian seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas. Pada keadaan yang lebih lanjut dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang lebih berat.3
Selain itu, dari anamnesis perlu ditanyakan adanya riwayat trauma, riwayat pembedahan sebelumnya (seperti ekstraksi katarak, pengangkatan corpus alienum intraokuler), riwayat penyakit mata sebelumnya (uveitis, perdarahan viterus, ambliopa, glaukoma dan retinopati diabetik), riwayat keluarga dengan penyakit mata serta penyakit sistemik yang berhubungan dengan ablasio retina (diabetes, tumor, sikle cell disease, leukemia, eklamsia dan prematuritas).

Pemeriksaan Oftalmologi
1. Pemeriksaan visus. Dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya makula lutea atau kekeruhan media refrakta atau badan kaca yang menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan akan sangat terganggu bila makula lutea ikut terangkat.2
2. Pemeriksaan lapangan pandang. Akan terjadi defek lapangan pandang seperti tertutup tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan kedudukan ablasio retina.
3. Pemeriksaan funduskopi. Merupakan salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis ablasio retina dengan menggunakan oftalmoskopi indirek binokuler. Pada pemeriksaan ini retina yang mengalami ablasio tampak sebagai membran abu-abu merah muda yang menutupi gambaran vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi cairan bermakna pada ruang subretina, didapatkan pergerakan undulasi retina ketika mata bergerak. Pembuluh darah retina yang terlepas dari dasarnya berwarna gelap, berkelok-kelok, dan membengkok di tepi ablasio. Pada retina yang mengalami ablasio terlihat lipatan-lipatan halus. Suatu robekan pada retina terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid di bawahnya. Mungkin didapatkan debris terkait pada vitreus yang terdiri dari darah dan pigmen atau operkulum dapat ditemukan mengambang bebas.
4. Pemeriksaan tekanan bola mata. Pada ablasio retina tekanan intraokuler kemungkinan menurun.13

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit penyerta antara lain glaukoma, diabetes melitus, maupun kelainan darah.12
2. Pemeriksaan ultrasonografi. Menggunakan gelombang suara dengan frekwensi tinggi (8-10 MHz). B-scan ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain yang menyertainya seperti proliferatif vitreoretinopati, benda asing intraokuler dengan membuat membuat potongan melalui seluruh jaringan, dengan demikian didapat lokasi dan bentuk dari kelainan dalam dua dimensi. Selain itu ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis.12
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan utama pada ablasio retina adalah pembedahan. Namun, pada ablasio retina eksudatif juga diberikan terapi medikamentosa sesuai dengan etiologinya. Jika terjadi proses inflamasi seperti skleritis dapat diberikan obat anti inflamasi, jika terjadi infeksi maka pemberian antibiotik juga dianjurkan.12
Terdapat dua teknik bedah utama untuk memperbaiki ablasio retina : 9
1. Eksternal (pendekatan konvensional)
2. Internal (pembedahan vitreoretina)
Prinsip utama pada kedua teknik ini adalah menutup robekan penyebab pada retina dan memperkuat perlekatan antara retina sekitar dan epitel pigmen retina dengan cara menginduksi inflamasi di daerah tersebut dengan pembekuan lokal dengan menggunakan cryoprobe atau laser. Pada pendekatan eksternal, robekan ditutup dengan menekan sklera menggunakan pita plomb silikon yang diletakkan eksternal. Ini menghilangkan traksi vitreus pada lubang retina dan mendekatkan epitel pigmen retina pada retina. Mungkin sebelumnya diperlukan drainase akumulasi cairan subretina yang sangat banyak dengan membuat lubang kecil pada sklera dan koroid menggunakan jarum (sklerostomi). 9


Pada pendekatan internal, vitreus diangkat dengan pemotong bedah mikro khusus yang dimasukkan ke dalam rongga vitreus melalui pars plana, tindakan ini menghilangkan traksi vitreus pada robekan retina. Cairan dapat dialirkan melalui robekan retina penyebab dan laser atau krioterapi dipergunakan pada retina sekitar. Tamponade internal temporer diberikan dengan menyuntikkan gas fluorokarbon inert ke dalam rongga vitreus. Penyuntikan ini akan menutup lubang dari dalam dan mencegah pasase cairan lebih lanjut melalui robekan. Pasien harus mempertahankan postur kepala tertentu selama beberapa hari untuk meyakinkan gelembung terus menutupi robekan retina. 9
Robekan retina yang tidak berhubungan dengan cairan subretina diterapi secara profilaksis dengan laser atau cryoprobe yang menginduksi inflamasi dan meningkatkan risiko perlekatan antara retina di sekitar robekan dan epitel pigmen sehingga mencegah ablasio retina. Selalu penting untuk memeriksa retina perifer pada mata kontralateral karena robekan atau ablasio retina simptomatik juga bisa didapatkan pada mata ini. 9

Secara singkat, terapi pembedahan pada ablasio retina adalah sebagai berikut :
- Sklera buckling tujuannya mendekatkan sklera pada retina yang robek, menjadikan reposisi retina lebih dekat ke RPE dengan mengurangi tarikan vitreus pada retina yang robek.
- Retinopleksi pneumatic digunakan pada ablasio retina tertentu yang disebabkan robekan pada 2/3 superior yang tampak pada fundus dimana prosedur ini memakai gelembung gas yang disuntikkan dalam ruang intravitreal untuk menekan retina yang robek sampai retina itu melekat kembali.
- Vitrektomi bertujuan melepaskan tarikan vitreus, drainase internal cairan subretinal, tamponade intra okuler (udara, gas, silicon oil, cairan perfluorocarbon), dan membuat adhesi chorioretinal memakai endolaser photocoagulation atau cryopexy.
- Endolaser tujuannya untuk membuat sikatrik dengan maksud untuk merekatkan retina kembali.
Pada ablasio retina tipe eksudatif, diterapi sesuai dengan penyebabnya. Perlekatan kembali retina pada epitel pigmennya secara spontan dapat terjadi apabila kelainan yang mendasari terjadinya ablasio retina tipe eksudatif teratasi. Termasuk diantaranya pemberian steroid dosis tinggi pada kasus inflamasi, atau terapi radiasi dan atau reseksi lokal pada kasus neoplasma intraokular.6,14

KOMPLIKASI
Penurunan ketajaman penglihatan dan kebutaan merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada ablasio retina. Penurunan penglihatan terhadap gerakan tangan atau persepsi cahaya (light perception) adalah komplikasi yang sering dari ablasio retina jika melibatkan makula.2

PROGNOSIS
Jika makula melekat dan pembedahan berhasil melekatkan kembali retina perifer, maka hasil penglihatan sangat baik. Jika makula terlepas lebih dari 24 jam sebelum pembedahan, maka tajam penglihatan sebelumnya mungkin tidak dapat penuh sepenuhnya. Namun, bagian penting dari penglihatan dapat kembali pulih dalam beberapa bulan. Jika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami komplikasi, maka dapat timbul perubahan fibrotik pada vitreous (vitreoretinopati proliferatif). PVR dapat menyebabkan traksi pada retina dan ablasio retina lebih lanjut. Prosedur vitreoretina yang rumit dapat mempertahankan penglihatan namun dengan hasil penglihatan yang lebih buruk.9



MIOPIA

Salah satu kelainan refraksi yang sudah dikenal saat ini adalah miopia, dimana pada waktu otot siliaris relaksasi (tidak berakomodasi), cahaya dari obyek jauh difokuskan di depan retina. 15
Dikenal beberapa bentuk miop seperti :1
a. Miop refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miop bias atau miop indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.
b. Miop aksial, miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal.
Steven M. Podos dalam bukunya "Optics and Refractions"mengelompokkan miopia berdasarkan besar derajat miopia ada 3 yaitu Miopia rendah : s/d 2 Dioptri(D), Miopia sedang : > 2 D - 6 D,dan Miopia tinggi : > 6D.
Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk :1
 Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa
 Miopia progresif, miop yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata
 Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasio retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa/ miopia maligna/miopia degeneratif.
Miopia degeneratif atau miopia maligna biasanya bila miopia lebih dari 6 D disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina. Atrofi retina berjalan kemudian setelah terjadi atrifo sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran bruch yang dapat menimbulkan ransangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina.1
Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai mata juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil). Pengobatan pasien dengan miopia adalah dengan memberikan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Penyulit yang dapat timbul pada pasien dengan miopia adalah terjadinya ablasi retina dan juling.1













DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2005. h. 3-11 dan 183-6.
2. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Anatomi dan Embriologi Mata; Penyakit retina Perifer. Dalam: Oftalmologi Umum. Jakarta: Widya Medika. 2000. Hal. 1-15 dan 207-8.
3. Galloway NR, Amoaku WMK, Galloway PH, et al. Retinal Detachment. In: Common Eye Diseases and Their Management. Third Edition. London: Springer-Verlag. 2006. p. 7-15 dan 103-10.
4. Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2003. h. 21-35 dan 103-7.
5. Regiello C, Chang TS, Jhonson MW. Retinal Detachment. In: Retinal and Vitreus. Chapter 11.Section 12. American Academy of Opthalmology 2008-2009. Singapore. p. 292-302.
6. Handbook of Ocular Management. Retinal Detachment. [online]. [cited on 2009 Feb 26]. Available from:URL: http://www.revoptom.com/HANDBOOK/ SECT 5R.HTM
7. Lang GK, Lang GK. Retina: Retinal Detachment. In: Lang G. Ophtalmology, A Short Textbook. New York : Thieme. 2000. p. 299-309 dan 328-32.
8. Goodman RL. Rhegmatogenous Retinal Detachment. In: Ophtho Notes The Essential Guide. New York : Thieme. 2003. p. 269-71.
9. James B, Chew C, Bron A. Anatomi dan Ablasio Retina. In: Lecture Notes Oftalmologi. Edisi Kesembilan. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal.1-15 dan 117-21.
10. Canadian Ophthalmologycal Society. Retinal Detachment A Serious Problem. [online] 2007. [cited on 2009 Feb 26]. Available from: URL: http://www.eyesite.ca/english/public-information/eye-conditions/pdfs/Retinal- Detache.pdf
11. Webb LA, Kanski JJ. Retinal Detachment. In : Manual of Eye Emergencies, Diagnosis and Management. Second Edition. Edinburgh: Butterworth-Heinemann. p. 86-8.
12. Wu, L. Retinal Detachment, Exudative. (online) 2007. [cited 2008 Des 22]. Available from: URL: http://www.emedicine.com/oph/ophRETINA.htm
13. Olver J, Cassidy L. Posterior Segment and Retina; Retinal Detachment. In: Ophthalmology at A Glance. Oxford : Blackwell Science. 2005. p. 28-9 and 84-7.
14. Batterbury M, Bowling B. Ocular Fundus : Retinal Detachment. In: Ophthalmology An Illustrated Colour Text. London: Elsevier Churchill Livingstone. 2005. p. 64-5.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar