Kamis, 07 Januari 2010

Askep Peritonitis

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Peritonitis
Askep Peritonitis



Peritonitis

Pengertian

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.


Etiologi
  1. Infeksi bakteri
    • Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal
    • Appendisitis yang meradang dan perforasi
    • Tukak peptik (lambung / dudenum)
    • Tukak thypoid
    • Tukan disentri amuba / colitis
    • Tukak pada tumor
    • Salpingitis
    • Divertikulitis
    • Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli, streptokokus alpha dan beta hemolitik, stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii.

  2. Secara langsung dari luar.
    • Operasi yang tidak steril
    • Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal.
    • Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa, ruptur hati
    • Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.

  3. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus.

Patofisiologi

Peritonitis menimbulkan efek sistemik. Perubahan sirkulasi, perpindahan cairan, masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Sistem sirkulasi mengalamin tekanan dari beberapa sumber. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini, meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang, meningkatkan kebutuhan oksigen, ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma.


Tanda dan Gejala

Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric.


Komplikasi
  • Eviserasi Luka
  • Pembentukan abses

Pemeriksaan Penunjang
  1. Test laboratorium
    • Leukositosis
    • Hematokrit meningkat
    • Asidosis metabolik

  2. X. Ray
    Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan :
    • Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis.
    • Usus halus dan usus besar dilatasi.
    • Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.

Penatalaksanaan Medis
  1. Bila peritonitis meluas dan pembedahan dikontraindikasikan karena syok dan kegagalan sirkulasi, maka cairan oral dihindari dan diberikan cairan vena untuk mengganti elektrolit dan kehilangan protein. Biasanya selang usus dimasukkan melalui hidung ke dalam usus untuk mengurangi tekanan dalam usus.

  2. Bila infeksi mulai reda dan kondisi pasien membaik, drainase bedah dan perbaikan dapat diupayakan.

  3. Pembedahan mungkin dilakukan untuk mencegah peritonitis, seperti apendiktomi. Bila perforasi tidak dicegah, intervensi pembedahan mayor adalah insisi dan drainase terhadap abses.

Diagnosa Keperawatan yang Muncul
  1. Nyeri bd proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan.

  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd muntah dan penghisapan usus.

Intervensi

Diagnosa Keperawatan I :
Nyeri bd proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan

Tujuan :
Persepsi klien tentang nyeri menurun, ditandai penurunan skala nyeri, dan tidak meringis.

Intervensi :
  • Kaji dan catat karakter dan beratnya nyeri setiap 1-2 jam
  • Setelah diagnosis, berikan narkotik, analgetik dan sedatif sesuai program untuk meningkatkan kenyamanan dan istirahat.
  • Pertahankan tirah baring ; istirahat, lingkungan yang tenang.
  • Pertahankan posisi nyaman ; semifowler.

Diagnosa Keperawatan II :
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd muntah dan penghisapan usus.

Tujuan :
Nutrisi pasien adekuat, ditandai BB stabil, albumin serum 3,5 s/d 5,5 g/dl.

Intervensi :
  • Pertahankan pasien puasa sesuai program selama fase akut.
  • Bila mengalami ileus, selang NG akan dipasang untuk dekompresi abdomen.
  • Berikan cairan secara bertahap bila motilitas telah kembali, dibuktikan bising usus, penurunan distensi dan pasase flatus.
  • Bila diprogramkan dukung pasien dengan nutrisi parenteral.
  • Berikan pengganti cairan, elektrolit dan vitamin sesuai program.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar