Jumat, 15 Januari 2010

Herniasi Diskus Intervertebralis

Pada sebagian besar kasus, rupture atau herniasi diskus intervertebralis disebabkan oleh trauma. Peregangan yang mendadak pada punggung dengan posisi aneh dan mengangkat sesuatu dengan tubuh dalam keadaan fleksi merupakan factor precipitasi yang umumnya sudah diketahui. Defek ini dapat terjadi segera setelah cedera atau terjadik kemudian dengan interval berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.
Diskus intervertebralis lumbosakral (L5-S1) atau (L4-5) merupakan daerah yang paling sering terkena, yang menimbulkan gambaran klinik ischalgia (sciarica). Ada kalanya herniasi terjadi pada region cervical ( yang ditandai dengan keluhan radicular cervical). Herniasi discus intervertebralis ini jarang terjadi pada daerah thoracal.


Etiologi dan patologi
Diskus intervertebralis merupakan jaringan yang terletak antara kedua tulang vertebra, dilingkari oleh anulus fibrosus yang terdiri atas jaringan konsentrik dan fibrokartilago dimana di dalamnya terdapat susbtansi setengah cair.Nukleus pulposus terdiri dari jaringan kolagen yang hiperhidrasi dengan protein polisakarida yang tidak mempunyai saraf sensoris. Herniasi terjadi oleh karena adanya degenerasi atau trauma pada anulus fibrosus yang menyebabkan protrusi dari nukleus pulposus. Herniasi terjadi pada daerah kostalateral yang menyebabkan ligamentum longitudinal posterior tergeser dan menekan akar saraf yang keluar sehingga menimbulkan gejala skiatika. Herniasi dapat juga terjadi kea rah posterior yang hanya menyebabkan gejala nyeri punggung bawah. Kelainan ini jarang menyebabkan kompresi. Herniasi dapat pula terjadi ke atas ke bawah melalui lempeng tulang rawan korpus vertebra untuk membentuk nodus Schmorl.

Gambaran klinis
Biasanya keluhan dan gejala herniasi discus intervertebralis tergantung kepada materi discus yang menonjol keluar atau mengalami herniasi. Herniasi vertebra lumbalis biasanya menyebabkan nyeri punggung bawah dengan atau tanpa disertai skiatika atau mungkin hanya berupa nyeri punggung bawah yang bersifat kronis dengan skiatika dimana nyeri menjalar mulai dari punggung bawah ke bokong sampai ke tungkai bawah.
Gejala klinis yang dapat ditemukan :
1. Nyeri punggung bawah yang hebat, mendadak, menetap beberapa jam sampai beberapa minggu secara perlahan-lahan.
2. Skiatika berupa rasa nyeri hebat pada satu atau dua tungkai sesuai dengan distribusiakar saraf dan menjadi hebat bila batuk, bersin atau membungkuk.
3. Parestesia yang hebat dapat disertai dengan skiatika sesuai dengan distribusi saraf dan mungkin terjadi sesudah gejala nyeri saraf menurun.
4. Deformitas berupa hilangnya lordosis lumbal atau skoliosis oleh karena spasme otot lumbal yang hebat.
5. Mobilitas gerakan tulang berkurang. Pada stadium akut gerakan pada bagian lumbal sangat terbatas, kemudian muncul nyeri pada saat ekstensi tulang belakang.
6. Nyeri tekan pada daerah herniasi dan pada daerah paravertebral atau bokong.
7. Uji menurut Lasque-leg Raising (SLR). Tes ini akan menunjukkan derajat terbatasnya dan besarnya tekanan pada akar saraf.
8. Tes tegangan saraf femoral. Pada herniasi diskus vertebra L-3/4, fleksi pada sendi lutut secara pasif dalam posisu telungkup akan menyebabkan nyeri pada paha bagian depan.
9. Gejala neurologis pada tungkai, berupa kelemahan otot, perubahan refleks dan perubahan sensoris yang mengenai akar saraf.

Insiden
Herniasi sering ditemukan pada daerah antara L5-S1 dan L4-5. Kelainan ini umumnya terjadi pada penderita umur 20-45 tahun.

Diagnosis
Pemeriksaan pada penderita dengan kecurigaan adanya herniasi diskus berupa:
1. Pemeriksaan klinik
Pada punggung, tungkai dan abdomen. Pemeriksaan rektal dan vaginal untuk menyingkirkan kelainan pada pelvis.
2. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan adalah :
Foto polos
Foto polos posisi AP dan lateral dari vertebra lumbal dan panggul (sendi sakroiliaka). Foto polos bertujuan untuk melihat adanya penyempitan diskus, penyakit degeneratif, kelainan bawaan dan vertebra yang tdak stabil.(spondililistesis)
Pemakaian kontras
Foto rontgen dengan memalai zat kontras terutama pada pemeriksaan miolegrafi radikuografi, diskografi serta kadang-kadang diperlukan venografi spinal.
MRI
Merupakan pemeriksaan non-invasif, dapat memberikan gambaran secara seksional pada lapisan melintang dan longitudenal.
Scanning
Scanning tulang dilakukan dengan mengggunakan bahan radioisotop (SR dan F)>Pemeriksaan ini terutama untk menyingkirkan kemungkinan penyakit paget.

Pengobatan
Tindakan pengobatan yang dapat diberikan tergantung dari keadaan, yaitu :
a. Pengobatan konservativ pada lesi diskus akut
Istirahat sempurna ditempat tidur, 1-2 minggu dengan pemberian analgesik yang cukup.
 Kadang-kadang diperlukan obat-obatan untukl mencegah spasme, pemanasan lokal atau anastesia lokal paravertebra.
Penderita tidur pada alas yang keras.
Pada saat ini idak diperbolehkan latihan sama sejali, bila pendeita dirawat dapat dianjurka untuk mrnggunakan traksi.
Pada fase akut dapat diberikan jaket plaster dari politen selama 2-3 minggu.
Injeksi epidural dengan 0,5 % prokain dalam 50 cc NaCl fisiologis.
Dapat dimulai latihan lumbal secara hati-hati apabila fase akut berakhir setelah 2-3 minggu.
b. Pengobatan konservatif pada fase subakut dan kronik
Fisioterapi
Latihan fleksi dan ekstensi tlang belakang yang mungkin didahului dengan disterni gelombang pendek.
Mobilisasi penderita dapat dilakukan dengan manipulasi yanghati-hati tanpa anstesia,
Instruksi untuk mempergunakan posisi yang benar dan disiplin terhadap gerakan punggung yaitu membungkuk dan mengangkat barang.
Pemakaian alat bantu lumbosakral
Berupa korset dan penyangga.
Traksi lumbal yang bersifat intermiten.
c. Tindakan operatif dilakukan pada keadaan-keadaan berikut :
Kelainan pada kauda ekuina disertai dengan kelemahan hebat, bersifat bilateral, gangguan dan kelemahan pada sfingter usus dan kandung kemih.
Adanya analgesia pelana pada bokong dan daerahj perineal.
Kelemahan otot yang progresif oleh karena tekanan pada saraf atau adanya tanda-tanda atrofi pada otot yag dipersarafi.
Adanya skiatika yang menetap dengan gejala neurologis, tidak menghilang dengan terapi konservatif dan waktu patokan biaanya 6 minggu.
Adanya lesi yang hebat disertai kelainan bawaan atau spondilitis yang hebat. Cara operasi dapat dilakukan secara terbuka tapi akhir-akhir ini operasi pada herniasi diskus dilakukan secara tertutup dengan mempergunakan alat dan teropong.

Prognosis
Siatica dapat berulang. Selama tidak menyebabkan hendaya dan dapat ditoleransi, cukup terapi konservatif saja. Bila frekuensi dan intensitas serangan menghambat aktivitas harian dan pekerjaan dapat dipertimbangkan tindakan bedah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar