Kamis, 01 April 2010

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Cephalgia

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN CEPHALGIA

Pengkajian

1. Data Subyektif

Pengertian pasien tentang sakit kepala dan kemungkinan penyebabnya.
  • Sadar tentang adanya faktor pencetus, seperti stress.
  • Langkah - langkah untuk mengurangi gejala seperti obat-obatan.
  • Tempat, frekwensi, pola dan sifat sakit kepala termasuk tempat nyeri, lama dan interval diantara sakit kepala.
  • Awal serangan sakit kepala.
  • Ada gejala prodomal atau tidak
  • Ada gejala yang menyertai.
  • Riwayat sakit kepala dalam keluarga (khusus penting sekali bila migren).
  • Situasi yang membuat sakit kepala lebih parah.
  • Ada alergi atau tidak.

2. Data Obyektif
  • Perilaku : gejala yang memperlihatkan stress, kecemasan atau nyeri.
  • Perubahan kemampuan dalam melaksanakan aktifitas sehari - hari.
  • Terdapat pengkajian anormal dari sistem pengkajian fisik sistem saraf cranial.
  • Suhu badan
  • Drainase dari sinus.
Dalam pengkajian sakit kepala, beberapa butir penting perlu dipertimbangkan. Diantaranya ialah:
  • Sakit kepala yang terlokalisir biasanya berhubungan dengan sakit kepala migrain atau gangguan organik.
  • Sakit kepala yang menyeluruh biasanya disebabkan oleh penyebab psikologis atau terjadi peningkatan tekanan intrakranial.
  • Sakit kepala migren dapat berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain.
  • Sakit kepala yang disertai peningkatan tekanan intrakranial biasanya timbil pada waktu bangun tidur atau sakit kepala tersebut membengunkan pasien dari tidur.
  • Sakit kepala tipe sinus timbul pada pagi hari dan semakin siang menjadi lebih buruk.
  • Banyak sakit kepala yang berhubungan dengan kondisi stress.
  • Rasa nyeri yang tumpul, menjengkelkan, menghebat dan terus ada, sering terjadi pada sakit kepala yang psikogenis.
  • Bahan organis yang menimbulkan nyeri yang tetap dan sifatnya bertambah terus.
  • Sakit kapala migrain bisa menyertai mentruasi.sakit kepala bisa didahului makan makanan yang mengandung monosodium glutamat, sodim nitrat, tyramine demikian juga alkohol.
  • Tidur terlalu lama, berpuasa, menghirup bau-bauan yang toksis dalam lingkungan kerja dimana ventilasi tidak cukup dapat menjadi penyebab sakit kepala.
  • Obat kontrasepsi oral dapat memperberat migrain.
  • Tiap yang ditemukan sekunder dari sakit kepala perlu dikaji.
3. Pemeriksaan Diagnostik
  • CT Scan, menjadi mudah dijangkau sebagai cara yang mudah dan aman untuk menemukan abnormalitas pada susunan saraf pusat.
  • MRI Scan, dengan tujuan mendeteksi kondisi patologi otak dan medula spinalis dengan menggunakan tehnik scanning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan struktur tubuh.
  • Pungsi lumbal, dengan mengambil cairan serebrospinalis untuk pemeriksaan. Hal ini tidak dilakukan bila diketahui terjadi peningkatan tekanan intrakranial dan tumor otak, karena penurunan tekanan yang mendadak akibat pengambilan CSF.
Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri b.d stess dan ketegangan, iritasi/tekanan saraf, vasospasme, peningkatan tekana intrakranial.
  2. Koping individual tak efektif b.d situasi krisis, kerentanan personal, sistem pendukung tidak adequat, kelebihan beban kerja, ketidakadequatan relaksasi, metode koping tidak adequat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.
  3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang mengingat, tidak mengenal informasi, keterbatasab kognitif.
Intervensi Keperawatan

1. Nyeri b.d stess dan ketegangan, iritasi/tekanan saraf, vasospasme, peningkatan tekana intrakranial.

Intervensi ;
  • Pastikan durasi/episode masalah , siapa yang telah dikonsulkan, dan obat dan/atau terapi apa yang telah digunakan
  • Teliti keluhan nyeri, catat itensitasnya ( dengan skala 0-10 ), karakteristiknya (misal : berat, berdenyut, konstan) lokasinya, lamanya, faktor yang memperburuk atau meredakan.
  • Catat kemungkinan patofisiologi yang khas, misalnya otak/meningeal/infeksi sinus, trauma servikal, hipertensi atau trauma.
  • Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal, seperi : ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis/meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung/pernafasan, tekanan darah.
  • Kaji hubungan faktor fisik/emosi dari keadaan seseorang
  • Evaluasi perilaku nyeri
  • Catat adanya pengaruh nyeri misalnya: hilangnya perhatian pada hidup, penurunan aktivitas, penurunan berat badan.
  • Kaji derajat pengambilan langkah yang keliru secara pribadi dari pasien, seperti mengisolasi diri.
  • Tentukan isu dari pihak kedua untuk pasien/orang terdekat, seperti asuransi, pasangan/keluarga
  • Diskusikan dinamika fisiologi dari ketegangan/ansietas dengan pasien/orang terdekat
  • Instruksikan pasien untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri itu timbul.
  • Tempatkan pada ruangan yang agak gelap sesuai dengan indikasi.
  • Anjurkan untuk beristirahat didalam ruangan yang tenang.
  • Berikan kompres dingin pada kepala.
  • Berikan kompres panans lembab/kering pada kepala, leher, lengan sesuai kebutuhan.
  • Masase daerah kepala/leher/lengan jika pasien dapat mentoleransi sentuhan.
  • Gunakan teknik sentuhan yang terapeutik, visualisasi, biofeedback, hipnotik sendiri, dan reduksi stres dan teknik relaksasi yang lain.
  • Anjurkan pasien untuk menggunakan pernyataan positif “Saya sembuh, saya sedang relaksasi, Saya suka hidup ini”. Sarankan pasien untuk menyadari dialog eksternal-internal dan katakan “berhenti” atau “tunda” jika muncul pikiran yang negatif.
  • Observasi adanya mual/muntah. Berikan es, minuman yang mengandung karbonat sesuai indikasi.
2. Koping individual tak efektif b.d situasi krisis, kerentanan personal, sistem pendukung tidak adequat, kelebihan beban kerja, ketidakadequatan relaksasi, metode koping tidak adequat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.

Intervensi ;
  • Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian. Ambil keuntungan dari kegiatan yang daoat diajarkan.
  • Bantu pasien dalam memahami perubahan pada konsep citra tubuh.
  • Sarankan pasien untuk mengepresikan perasaannya dan diskusi bagaimana sakit kepala itu mengganggu kerja dan kesenangan dari hidup ini.
  • Pastikan dampak penyakitnya terhadap kebutuhan seksual.
  • Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penagnan, dan hasil yang diharapkan.
  • Kolaborasi
  • Rujuk untuk melakukan konseling dan/atau terapi keluarga atau kelas tempat pelatihan sikap asertif sesuai indikasi.
3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang mengingat, tidak mengenal informasi, keterbatasab kognitif.

Intervensi ;
  • Diskusikan etiologi individual dari saki kepala bila diketahui.
  • Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi, seperti stress emosi, suhu yang berlebihan, alergi terhadap makanan/lingkungan tertentu.
  • Diskusikan tentang obat-obatan dan efek sampingnya. Nilai kembali kebutuhan untuk menurunkan/menghentikan pengobatan sesuai indikasi
  • Instruksikan pasien/orang terdekat dalam melakukan program kegiatan/latihan , makanan yang dikonsumsi, dan tindakan yang menimbukan rasa nyaman, seprti masase dan sebagainya.
  • Diskusikan mengenai posisi/letak tubuh yang normal.
  • Anjurkan pasien/orang terdekat untuk menyediakan waktu agar dapat relaksasi dan bersenang-senang
  • Anjurkan untuk menggunakan aktivitas otak dengan benar, mencintai dan tertawa/tersenyum.
  • Sarankan pemakaian musik-musik yang menyenangkan.
  • Anjurkan pasien untuk memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan atau faktor presipitasinya.
  • Berikan informasi tertulis/semacam catatan petunjuk
  • Identifikasi dan diskusikan timbulnya resiko bahaya yang tidak nyata dan/atau terapi yang bukan terapi medis
Daftar Pustaka
  1. Barbara C Long, 1996, Perawatan Medikal Bedah, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
  2. 2. Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
  3. 3. Marlyn E. Doengoes, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untukPerencanaan & Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta.
  4. 4. Priguna Sidharta, 1994, Neurogi Klinis dalam Praktek Umum, Dian Rakyat, Jakarta.
  5. 5. Susan Martin Tucker, 1998, Standar Perawatan Pasien : Proses Perawatan, Diagnosa dan Evaluasi, Edisi V, Vol 2, EGC, Jakarta.
  6. 6. Sylvia G. Price, 1997, Patofisologi, konsep klinik proses - proses penyakit. EGC, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar